Bahlil Jamin Stok BBM Aman, Pertamina Diminta Tambah Armada Distribusi

Penulis: Panji Pratama  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 11:53:02 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan cadangan BBM nasional dalam kondisi aman.

KALIMANTAN UTARA — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan cadangan BBM nasional aman, dengan Pertalite di kisaran 16-18 hari dan jenis lain di atas 20 hari. Pemerintah kini meminta Pertamina menambah armada pengangkut untuk memperlancar distribusi ke Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera.

Denpasar, Bali — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memimpin rapat koordinasi di Fuel Terminal Sanggaran, Denpasar, Senin (19/10/2026). Rapat itu memetakan persoalan distribusi BBM yang sempat terganggu di sejumlah wilayah, mulai dari Bali hingga kawasan yang mengandalkan jalur sungai.

Bahlil menyatakan cadangan nasional Pertalite (RON 90) berada di kisaran 16 sampai 18 hari. Untuk jenis BBM lain, cadangan tercatat di atas 20 hari, sesuai standar minimum nasional yang berlaku.

"Saya katakan bahwa cadangan nasional kita di atas 16-18 hari," ujar Bahlil, dikutip dari keterangan resmi, Selasa (20/10).

Solar Tak Lagi Impor, Pertalite Masih Bergantung Pasokan Luar

Dari sisi pasokan, Bahlil menyampaikan kabar positif soal solar. Komoditas itu kini tidak lagi didatangkan dari luar negeri. "Kalau solar, kita tidak lagi melakukan impor," katanya.

Berbeda dengan solar, sebagian kebutuhan Pertalite masih dipenuhi lewat impor. Meski begitu, Bahlil menilai kondisi cadangan saat ini cukup untuk menahan kekhawatiran masyarakat. "Sekarang distribusinya yang kita perlancar," ucapnya.

Bali Jadi Cermin: Cadangan Sempat Turun ke 3-4 Hari

Gangguan pasokan di Bali menjadi bahan evaluasi utama rapat. Keterlambatan kapal pengangkut BBM dari Jawa sempat menekan cadangan di wilayah itu hingga tinggal 3-4 hari.

Setelah armada kapal ditambah, cadangan kembali naik ke kisaran 11-12 hari. Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Bali pun mulai terurai. Bahlil menyebut insiden itu sebagai kendala teknis dalam manajemen arus logistik Pertamina, namun penyelesaiannya menjadi tanggung jawab bersama.

"Tapi apa pun itu, masih bagian yang harus kita tanggung jawab bersama-sama," ujarnya.

Sungai Mendangkal, Pengiriman BBM Beralih ke Jalur Darat

Direktur Utama Pertamina dalam rapat tersebut melaporkan kendala serupa di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Selama ini pengangkutan BBM di wilayah itu mengandalkan kapal yang melintasi sungai.

Sebagian sungai mengalami pendangkalan akibat cuaca, sehingga kapal berukuran besar tidak lagi bisa melintas. Pengiriman pun dialihkan ke jalur darat, yang membuat waktu tempuh di sejumlah daerah menjadi lebih lama.

Bahlil memastikan pemerintah akan mengupayakan langkah maksimal agar gangguan pasokan tidak terulang. "Kita akan melakukan maksimal agar hal-hal yang tidak diinginkan itu tidak terjadi lagi," tegasnya.

Penambahan Armada Jadi Kunci Pemerataan Pasokan

Untuk mempercepat pengiriman antardaerah, Bahlil meminta Pertamina menambah armada pengangkut. Langkah serupa sebelumnya diterapkan di Bali dan terbukti meredakan antrean di SPBU.

Penambahan armada dinilai krusial karena persoalan utama bukan lagi ketersediaan stok, melainkan kecepatan BBM sampai ke tangan konsumen di daerah terpencil. Wilayah dengan akses sungai yang menyusut menjadi prioritas penguatan logistik.

Dengan cadangan nasional yang terjaga dan jalur distribusi yang terus dibenahi, pemerintah berupaya memastikan pasokan BBM tiba tepat waktu. Bagi masyarakat di daerah, kelancaran distribusi ini menentukan ketersediaan bahan bakar harian, sementara bagi Pertamina, penambahan armada menjadi ujian efisiensi logistik di tengah kondisi geografis yang menantang.

Reporter: Panji Pratama
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top