KALIMANTAN UTARA — Fernando Roig menyatakan tidak pernah benar-benar menikmati pertandingan Villarreal, termasuk laga Liga Champions melawan Liverpool di Anfield. Presiden klub terlama di Eropa itu mengaku lebih sering diliputi kecemasan ketimbang kesenangan saat timnya bertanding.
Roig akan memasuki tahun ke-30 masa kepemimpinannya di Villarreal. Sepanjang periode itu, ia telah melewati lebih dari 1.000 pertandingan, tetapi perasaan cemas menjelang laga tak pernah hilang.
"Saya tidak gugup. Lebih buruk dari itu: saya khawatir, sangat cemas," ujar Roig. "Saya sangat menderita."
Duel di Anfield menandai pertemuan kelima Villarreal dengan Liverpool. Dua di antaranya berlangsung di semifinal kompetisi Eropa, dan ini akan menjadi kunjungan ketiga ke markas The Reds.
"Ini emosional bisa bermain melawan Liverpool," kata Roig. "Saya akan menonton sesi latihan pagi, bepergian bersama tim. Kami akan makan; ke mana pun kami pergi, kami diperlakukan sangat baik dan kami membalasnya dengan baik."
Rutinitasnya menjelang laga sudah menjadi kebiasaan. Roig menonton tim U-19 pada pagi hari, lalu menyaksikan pertandingan utama yang menurutnya justru tidak ia nikmati. Setelah itu, rombongan terbang pulang sangat larut.
Wawancara berlangsung sehari setelah Villarreal mengalahkan Napoli di Liga Champions. Kemenangan itu menjadi yang pertama bagi kapal kuning sejak terakhir kali menghadapi Liverpool di semifinal 2022.
Roig mengaku lebih tenang pada hari-hari setelah pertandingan. Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai laga berikutnya datang, termasuk saat Elche bertandang pada akhir pekan.
"Saya bisa menikmatinya hari ini, besok, dan lusa," ujar pria berusia 79 tahun itu. "Sampai Elche datang pada Sabtu dan tiba waktunya menderita lagi."
Roig menjelaskan alasannya tetap menjalani peran sebagai presiden klub. Baginya, kepuasan datang setelah pertandingan usai, ketika warga kota dan provinsi merasakan kebahagiaan atas tim mereka.
"Ini soal komunitas. Orang mengeluarkan uang untuk datang menonton pertandingan. Yang mereka inginkan adalah menikmatinya dan yang kami inginkan adalah memberikan itu," tuturnya.
Perjalanan Villarreal dimulai pada Mei 1997. Saat itu Roig mengambil alih klub yang belum pernah bermain di divisi utama, hanya punya sekitar 1.500 anggota, dan menanggung utang mendekati 80 juta euro.
Laga pertama yang ia saksikan sebagai presiden berlangsung di lapangan kecil berkapasitas di bawah 4.000 penonton. Villarreal kalah 3-0 dari Badajoz pada malam Minggu di divisi dua.
"Saya ingat pertandingan Badajoz itu, berpikir 'jadi beginilah mulainya'," kata Roig. "Kami tidak punya lapangan latihan. Kami berlatih di petak rumput mana pun yang bisa ditemukan."
Prioritas awal saat itu sederhana: membangun skuad yang bisa promosi, mencari lapangan layak, menyediakan ruang ganti memadai, dan mendirikan akademi. Membayangkan Anfield kala itu, menurut Roig, adalah hal yang absurd.
Sebelum masuk ke sepak bola, Roig sudah mengelola Pamesa Valencia, klub bola basket yang ia bawa dari kasta kedua ke ACB. Pengalaman itu memberinya bekal untuk membangun Villarreal.
Ia sempat memimpin kedua klub sekaligus, tetapi kemudian menyadari keduanya tak bisa dijalankan bersamaan. Sebagian besar pabrik keramiknya berada di sekitar Vila-real, wilayah yang memproduksi hampir seluruh keramik Spanyol.
"Semua pabrik saya ada di sini: di sini, Almassora, Onda, L'Alcora; 98% keramik yang dibuat di Spanyol diproduksi dalam radius 50 km di sekitar kota," ujarnya. "Ini tempat kami, tempat kami bisa memberi sesuatu kembali."