KALIMANTAN UTARA — Olivia "Diamond" Bahsous dan Malia Weaver akhirnya bertemu di ring atomweight Muay Thai The Inner Circle 35, Jumat (16/10), di Lumpinee Stadium Bangkok. Duel dua striking berusia 16 tahun ini jadi panggung pembuktian setelah berminggu-minggu saling tantang di media sosial, dengan taruhan kontrak jajaran utama ONE Championship.
Bahsous melangkah ke laga ini dengan dua kemenangan knockout beruntun dalam dua penampilan pertamanya di ONE Championship. Catatan itu membuatnya difavoritkan, sekaligus menempatkan target besar di punggungnya sebagai petarung yang harus dihentikan Weaver.
Weaver datang dari jalur berbeda. Ia menjalani debut di organisasi ini dengan rekor profesional tak terkalahkan, dan kemenangan atas Bahsous akan langsung menegaskan posisinya di panggung dunia tanpa perlu proses panjang.
Petarung asal Kanada itu membuka karier ONE-nya di The Inner Circle 19 pada Juni. Menghadapi Phontip Khlongtoeiyouthcenter, Bahsous melancarkan serangan siku tajam dan pukulan keras untuk menutup laga lewat TKO ronde pertama dalam 89 detik.
Penampilan berikutnya di ONE Friday Fights 164 pada Juli tak berlangsung lebih lama. Bahsous menghentikan Nonglek Krudamgym hanya dalam 48 detik di ronde kedua, mengukuhkan reputasinya sebagai petarung muda dengan kemampuan knockout berbahaya.
Sebelum masuk ONE, Bahsous sudah menjuarai IFMA Junior World Championships tiga kali berturut-turut. Latar belakang itu yang membuatnya menolak anggapan bahwa seorang pendatang baru bisa dengan mudah melewati proses latihan berat untuk mencapai level elite.
Bahsous tidak menganggap adu kata-kata di media sosial sebagai candaan biasa. Baginya, tantangan Weaver menyangkut soal proses dan pengorbanan yang sudah ia jalani bertahun-tahun.
"Perseteruan? Perseteruan apa? Memang begitulah saya. Dia menantang saya, dan saya menganggapnya sangat personal karena dia berpikir bisa melewati berbagai tahapan untuk mencapai posisi saya sekarang," kata Bahsous kepada onefc.com.
"Dan karena itu, dia membuat orang lain berpikir bahwa mereka bisa begitu saja menantang saya dan mendapat kesempatan tampil di panggung ini, ONE Championship, padahal mereka belum mencurahkan waktu latihan sebanyak yang telah saya lakukan."
Soal tekanan menjelang laga, Bahsous justru melihatnya sebagai bahan bakar. Ia menyebut semakin banyak mata yang memperhatikannya, semakin terang pula ia bisa bersinar.
Pendekatan agresif tanpa henti membawa Bahsous pada dua finis beruntun. Namun ia meyakini keunggulan terbesarnya bukan sekadar kekuatan pukulan, melainkan variasi serangan yang dimilikinya.
"Setiap kali memasuki ring, saya selalu berencana meng-KO semua lawan saya. Karena kalau tidak melakukannya, saya tidak merasa seperti telah menang," ujarnya.
"Setiap kali melihat celah, baik untuk tendangan, pukulan, maupun serangan siku, saya menyukai semua senjata saya. Saya sama bagusnya dalam menggunakan semuanya, dan saya tahu senjata apa pun yang saya gunakan akan membuatnya KO. Itu hanya masalah waktu."
Weaver memandang rivalitas ini dari sudut berbeda. Petarung Amerika Serikat itu menyebut julukan "Olivia Slayer" awalnya datang dari seorang penggemar, dan ia hanya mengunggahnya kembali lewat Instagram.
Julukan yang viral itu kemudian berkembang menjadi bahan provokasi baru dalam perseteruan keduanya. Weaver menyiapkan tekanan tanpa henti sebagai jawaban atas tantangan Bahsous.
Laga atomweight Muay Thai ini disiarkan langsung pada jam tayang utama Asia secara eksklusif bagi member di live.onefc.com dari Lumpinee Stadium, arena bersejarah di Bangkok. Bagi Bahsous, kemenangan meyakinkan akan memperkuat peluangnya mendapatkan kontrak di jajaran atlet utama ONE Championship. Bagi Weaver, mengalahkan sesama striker muda berbakat menjadi jalan pintas menegaskan kehadirannya di level elite.