KALIMANTAN UTARA — PT BYD Motor Indonesia resmi mengoperasikan pabrik perakitannya di Subang Smartpolitan Industrial Park, Jawa Barat. Fasilitas seluas 126 hektare ini bukan sekadar gudang penyimpanan—Vice President of BYD Co Ltd Liu Xueliang menegaskan pabrik tersebut telah dilengkapi empat proses manufaktur utama otomotif: stamping, welding, painting, dan assembly.
Kabar ini penting bagi calon pembeli yang selama ini menunggu penurunan harga mobil listrik BYD. Sayangnya, ekspektasi itu harus ditahan dulu. Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, secara gamblang menyatakan tidak akan ada perubahan harga meski produksi sudah dilakukan di dalam negeri.
Luther menjelaskan transisi BYD dari mode impor utuh (CBU) ke produksi lokal berjalan mulus karena insentif kebijakan fiskal dari pemerintah. Skema insentif dengan kompensasi investasi ini membuat struktur fiskal antara impor dan produksi lokal menjadi sama.
"Jadi sebenarnya gini. BYD ini transisi dari CBU dan mengarah ke local production itu ada situasi yang sengaja dibentuk melalui mekanisme kebijakan fiskal agar smooth perpindahannya. Jadi ada insentif dengan kompensasi investasi, sehingga membuat struktur fiskalnya itu sama, impor dan produksi sini. Artinya berarti tidak ada perubahan," kata Luther di lokasi peresmian.
Logika ini masuk akal. Selama ini BYD menikmati bebas bea masuk impor untuk kendaraan listrik, sehingga harga jualnya sudah kompetitif sejak awal. Pabrik lokal tidak serta-merta membuat biaya produksi lebih murah—justru sebaliknya jika volume produksi belum optimal.
"Komponen pembentuk harga itu sebenarnya harusnya volume. Kalau berbasis produksi tapi kita enggak dapat volume-nya, juga akan malah menciptakan harga yang jauh lebih mahal," jelas Luther.
Pernyataan ini penting dibaca sebagai sinyal strategi bisnis. Pabrik BYD Subang punya kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun, atau sekitar 10.000 unit per bulan. Namun, saat ini yang baru dirakit lokal baru tiga model: Atto 3, M6 (varian EV dan PHEV), serta satu model lagi yang dijadwalkan menyusul dalam waktu dekat.
Luther menyebut model ketiga tersebut adalah produk dengan kontribusi volume penjualan yang stabil dan signifikan setiap bulannya—kode yang paling mungkin mengarah pada Dolphin atau Seal, dua model yang selama ini menjadi penopang penjualan BYD di Indonesia.
Salah satu momen menarik dalam peresmian pabrik adalah terlihatnya Denza D9 dalam kondisi utuh di lini perakitan. MPV premium ini sebelumnya hanya dijual dalam status impor utuh. Luther memberi kode bahwa Denza D9 berpotensi menyusul untuk dirakit lokal, meski belum ada kepastian waktu.
Jika Denza D9 benar-benar dirakit di Subang, ini akan menjadi langkah besar BYD untuk menantang dominasi segmen MPV premium yang selama ini diisi Toyota Alphard dan Lexus LM. Namun, dengan logika yang sama—volume menentukan harga—belum ada jaminan harga Denza D9 akan turun signifikan.
Peresmian pabrik BYD Subang adalah momentum penting untuk industri otomotif listrik Indonesia. Empat proses manufaktur utama yang dibangun di atas lahan 126 hektare menunjukkan komitmen serius BYD menjadikan Indonesia sebagai basis produksi regional.
Bagi konsumen yang menunda pembelian dengan harapan harga turun setelah produksi lokal, kabar ini mungkin mengecewakan. Namun, ada sisi positifnya: dengan produksi lokal, potensi masalah pasokan dan waktu tunggu unit bisa lebih pendek dibandingkan impor utuh. Keputusan membeli BYD saat ini sebaiknya didasarkan pada nilai produk itu sendiri, bukan spekulasi penurunan harga yang belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Mobil model?
pa saja yang sudah dirakit di pabrik BYD Subang? A: Saat ini baru tiga model yang dirakit lokal, yaitu Atto 3, M6 (varian EV dan PHEV), serta satu model lagi yang dijadwalkan menyusul dalam waktu dekat.