KALIMANTAN UTARA — Serial mata-mata garapan Apple TV+ ini memang punya ritme rilis tahunan yang konsisten—sesuatu yang langka di era streaming. Namun, di balik konsistensi itu, ada perubahan fundamental yang terjadi di balik layar untuk musim keenam. Will Smith (bukan aktor film Bad Boys) mundur dari posisi showrunner, digantikan Gaby Chiappe. Ini kali pertama dalam sejarah serial ini kepenulisan utama berganti tangan.
Yang lebih menantang, tim penulis memutuskan mengadaptasi dua novel Mick Herron sekaligus, "Joe Country" dan "Slough House", ke dalam enam episode. Biasanya satu novel mendapat porsi enam episode penuh. Kombinasi dua buku dalam satu musim berisiko membuat cerita terasa terburu-buru, tapi hasil akhirnya justru tetap mulus.
Saya sudah menonton seluruh episode musim ini, dan kabar baiknya: tidak ada yang perlu dikhawatirkan. "Slow Horses" tetap menjadi tayangan yang sama—brilian dalam penulisan, cepat dalam ritme, dan tanpa rasa takut membunuh karakternya sendiri.
Musim ini dibuka dengan tempo tinggi. Mantan agen "Joes" yang pernah menjadi anak buah Jackson Lamb (Gary Oldman) mulai gugur satu per satu—dibakar hidup-hidup di kontainer pengiriman, dan berbagai cara mengerikan lainnya. Ada daftar nama yang berisi semua penghuni Slough House, baik yang masih aktif maupun yang sudah keluar, dan dua pembunuh bayaran yang diperankan Kyle Soller dan MyAnna Buring bekerja dengan efisien profesional untuk melacaki daftar itu.
Yang membuat situasi makin pelik, MI5 dan pemimpinnya Diana Taverner (Kristin Scott Thomas) tampak tidak terlalu peduli dengan rentetan kematian ini. Sikap acuh terhadap nyawa manusia memang sudah jadi ciri khas serial ini, dan itu yang membedakannya dari drama mata-mata lain yang cenderung melindungi karakter utamanya.
Di kebanyakan serial, penonton bisa menebak karakter mana yang pasti selamat. "Slow Horses" tidak memberi kenyamanan itu. Kecuali Oldman sebagai spymaster tua yang jorok, semua orang bisa mati kapan saja. Musim ini membuktikan hal itu dengan kembalinya Sid Baker (Olivia Cooke), karakter favorit penonton sejak musim pertama yang "dibunuh" di akhir musim tersebut—ternyata kematiannya direkayasa.
Jangan berharap semua karakter seberuntung Sid. Para penulis tetap akan memberikan pukulan mematikan ke karakter yang dicintai, dan setidaknya satu kematian di keluarga Slough House akan membuat Anda terkejut. Ada pula sebuah pengungkapan besar yang sulit ditebak—kecuali Anda sudah membaca novel Herron.
Hubungan rusuh antara River Cartwright (Jack Lowden) dan Lamb tetap menjadi tulang punggung emosional serial ini. Namun yang mengejutkan, konflik River dengan ayah kandungnya, Frank Harkness (Hugo Weaving), justru menjadi daya tarik tersendiri. Dinamika ayah-anak yang beracun ini terasa lebih intens daripada konflik tipikal pahlawan versus penjahat—Anda justru ingin melihat mereka berdua dalam satu ruangan sesering mungkin.
Pendatang baru juga memberi warna segar. Lenny Rush sebagai Reece Nesmith tampil menggemaskan dan mampu beradu mulut dengan Lamb, termasuk dalam hal lelucon kentut yang tidak sopan. Penggemar "Andor" akan senang melihat Soller sebagai salah satu pembunuh bayaran, dengan Buring sebagai pasangannya yang solid. Cooke, meski bukan wajah baru, langsung terasa klop dengan Lowden—chemistry mereka instan, seolah dia tidak pernah pergi.
Jika saya tidak tahu ada perubahan penulis utama dan tantangan memadatkan dua buku, saya tidak akan menyadarinya hanya dari menonton. Musim ini terasa sama halusnya dengan lima musim sebelumnya. Mungkin bukan musim favorit saya—dua musim pertama masih di puncak, dengan musim keempat di belakangnya—tapi musim ini jelas masuk dalam percakapan.
"Slow Horses" musim 6 adalah bukti bahwa formula pemenang penghargaan tidak perlu diubah. Untuk penggemar setia, tidak ada alasan untuk ragu. Untuk yang belum pernah menonton, mulailah dari musim 1, lalu kejar sampai musim 6. Serial ini resmi masuk daftar 10 tayangan terbaik saya tahun ini. Premier 16 September di Apple TV+.