TARAKAN — Jalan Kurau RT 15, Kelurahan Juata Laut, bukan sekadar kawasan pesisir dengan desir angin laut. Di sinilah Siti Halijah (40) bersama Kelompok Nelayan Berkah Setara menggerakkan roda ekonomi warga melalui produksi ikan kering tipis khas Tarakan yang berbahan baku ikan Pepija atau Nomei.
Usaha yang diwariskan almarhum kedua orang tuanya ini telah berjalan sejak 2014. Kini, rantai pasok berputar di dalam rumah tangganya sendiri—sang suami yang sehari-hari melaut menjadi pemasok utama bahan baku, sementara Siti mengelola proses produksi hingga pemasaran.
Musim panen ikan Pepija biasanya berlangsung meruah mulai pertengahan tahun hingga mendekati akhir tahun. Namun, kelimpahan tangkapan tak otomatis membuat nelayan sejahtera.
"Secara logika nelayan bisa kaya karena tangkapan banyak. Tapi kenyataannya sulit karena saat ikan melimpah, pengumpul besar langsung menurunkan harga semau mereka. Mau tidak dijual, barang cepat busuk karena sifatnya perishable," ungkap Siti, Senin (24/8/2026).
Ia mencontohkan, harga bahan mentah yang ia serap dari nelayan sekitar mencapai Rp100.000 per kilogram. Namun, posisi tawar nelayan kerap melemah saat pasokan membanjiri pasar dan tengkulak menekan harga di bawah biaya operasional melaut.
Mengubah ikan Pepija basah menjadi lembaran kering tipis yang renyah bak kerupuk bukan perkara instan. Pembelahan dilakukan manual menggunakan pisau tajam, membuang kepala dan membelah daging memanjang tanpa merusak tekstur.
Urutan waktu penjemuran memegang peranan vital. Ikan segar yang tiba siang atau sore hari wajib diberi es, dicuci bersih, lalu dibelah dan dicuci kembali. Setelah itu, lembaran ikan harus didiamkan semalaman di dalam es sebelum dijemur keesokan paginya.
"Ikan tidak bisa langsung dijemur begitu selesai dibelah di sore hari, nanti malah rusak. Harus didiamkan di es semalaman, baru besok paginya dijemur saat ada terik matahari," jelasnya.
Proses penjemuran di atas rak bambu berukuran 1x2 meter yang berjejer di lokasi seluas 10x20 meter di atas laut memakan waktu 1 hingga 1,5 hari. Tingkat kekeringan harus mencapai 80 hingga 100 persen.
Rasio penyusutan bahan baku terbilang ekstrem: 11 kilogram ikan basah hanya menghasilkan 1 kilogram ikan kering tipis. Kondisi ini membuat cuaca menjadi faktor penentu—hujan atau mendung bisa menunda penjemuran dan merusak kualitas produk.
Di sisi lain, kapasitas mesin pendingin milik Siti sangat terbatas. "Kapasitas freezer kami di sini paling banyak hanya mampu menampung 200 kilogram. Kalau pas panen melimpah sampai 1 ton, kami kesulitan karena belum ada fasilitas ruangan pendingin (cold room) yang besar," tambahnya.
Di tengah keterbatasan, Siti menerapkan prinsip pengelolaan keuangan yang disiplin. Setiap keuntungan bersih rata-rata Rp5 juta hingga Rp8 juta per bulan, ia sisihkan secara bertahap untuk modal pengembangan usaha.
Hasilnya mulai terlihat: tambahan mesin pendingin, pembangunan tempat penjemuran baru, hingga kios usaha mandiri untuk menjual produk olahan secara langsung. Ibu dua anak ini membuktikan bahwa usaha pengolahan perikanan tetap bisa berkelanjutan tanpa bergantung pada suntikan modal besar.