TARAKAN — Masyarakat Tarakan tengah merasakan dampak dari periode tanpa hujan yang mencapai 6 hingga 10 hari terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan air bersih, mengingat kota ini memiliki karakteristik curah hujan tinggi hampir sepanjang tahun.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, menegaskan bahwa secara terminologi meteorologi, wilayah Tarakan belum bisa dikategorikan memasuki musim kemarau. Pasalnya, definisi kemarau mengharuskan curah hujan di bawah 50 milimeter selama tiga dasarian atau 30 hari berturut-turut.
Khilmi menjelaskan, pada dasarian kedua yang berlangsung 11 hingga 20 Agustus 2026, curah hujan di Tarakan memang tercatat di bawah 50 milimeter. Namun, periode tersebut belum berlanjut selama tiga dasarian berturut-turut sehingga belum memenuhi syarat kemarau.
"Kalau versi atau dari terminologi meteorologi, kita belum bisa masukkan ini dalam kategori kemarau. Definisi kemarau itu ketika 10 hari hujannya kurang dari 50 milimeter, kemudian diikuti 10 hari berikutnya dan 10 hari berikutnya," jelasnya.
Meski belum masuk kategori kemarau, BMKG telah menyampaikan data ini kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Hari tanpa hujan dengan durasi pendek ini dinilai cukup signifikan bagi Tarakan yang biasanya memiliki periode kering di bawah lima hari.
Ketiadaan hujan selama lebih dari sepekan membuat permukaan tanah di Tarakan mulai mengering. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi stok air bersih, tetapi juga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan mulai muncul.
"Untuk Tarakan, karena selama ini sifatnya hari tanpa hujannya di bawah lima hari, ini cukup berdampak. Kami juga sudah menyampaikan bahwa memang sudah saatnya memberikan bimbingan kepada masyarakat sesuai dokumen yang kita susun bersama BPBD untuk melakukan penghematan air," ungkapnya.
Khilmi menambahkan, fenomena El Nino turut memengaruhi kondisi cuaca di Kalimantan Utara. Namun, dampaknya tidak sekuat yang dirasakan wilayah Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Kabar baiknya, peluang hujan masih terbuka dalam beberapa hari ke depan. BMKG Kalimantan Utara memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Untuk Tarakan, hujan diprakirakan turun pada 26 Agustus 2026. Sementara itu, pada 27 Agustus giliran Kabupaten Nunukan, Malinau, dan Tana Tidung yang berpotensi diguyur hujan serupa. Wilayah Kabupaten Malinau juga diprediksi mengalami hujan pada 28 Agustus 2026.
Meski masyarakat merasakan panas menyengat di siang hari, BMKG memastikan suhu udara di Tarakan masih berada di kisaran normal, yakni 31 hingga 33 derajat Celsius. Kondisi ini belum masuk kategori ekstrem.
Khilmi juga menyoroti dampak asap karhutla terhadap proses pembentukan awan. Partikel asap yang melayang di atmosfer berbeda dengan uap air, sehingga dapat menghambat proses penguapan dan pembentukan awan hujan.
"Proses pembentukan awan ini sedikit terganggu. Penguapan air laut oleh matahari sedikit kurang maksimal karena permukaan laut maupun daratan diselubungi asap," terangnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap menghemat penggunaan air dan mencermati informasi prakiraan cuaca terbaru, khususnya menghadapi potensi hujan serta risiko karhutla di lingkungan sekitar.