TARAKAN — Sepanjang Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan mencatat karhutla telah melalap lahan seluas 56 hektare. Luasan itu berasal dari 25 titik kebakaran yang tersebar di sejumlah kawasan kota.
Kepala BPBD Tarakan, Yonsep, menyebut penanganan karhutla pada periode ini menjadi pekerjaan berat bagi personel di lapangan. Pasalnya, api kerap muncul kembali di lokasi yang sama beberapa jam setelah dinyatakan padam.
“Kalau kita hitung sebenarnya penanganannya lebih, karena berulang. Begitu dipadamkan malam ini, besok siang nyala lagi, terpaksa turun lagi,” ujarnya, Senin (24/8/2026).
Dari total luasan yang terbakar, dua kawasan mencatat dampak paling signifikan. Di Karungan, lahan yang hangus mencapai sekitar 13 hektare, sementara kawasan Bengawan dan Juwata Permai diperkirakan terdampak hingga 16 hektare.
Yonsep menjelaskan, karakter kebakaran lahan yang luas membuat proses pemadaman tidak bisa tuntas dalam satu kali operasi. Api dapat kembali menyala ketika angin masuk ke celah-celah material yang masih menyimpan potensi terbakar.
Selain karhutla di lahan permukaan, BPBD juga menangani kebakaran material batu bara di tiga area, yakni kawasan Jalan Amal, Pasir Putih depan Rumpi, dan Kampung Enam. Karakter kebakaran jenis ini berbeda karena api berada di dalam rongga tanah.
Potensi material batu bara sebenarnya tersebar di sejumlah wilayah Tarakan. Namun, luas kandungan di bawah permukaan belum dapat dipastikan tanpa penelitian lebih lanjut.
“Kalau kita melihat potensinya memang ada potensi material batu bara di bawah tempat itu. Tapi kita tidak tahu berapa jumlahnya, harus diteliti dulu,” jelasnya.
Di tengah meningkatnya kejadian karhutla, BPBD Tarakan menghadapi keterbatasan personel. Idealnya, setiap kecamatan membutuhkan sekitar 10 personel saat terjadi kebakaran, namun jumlah tersebut jauh dari kondisi riil di lapangan.
“Kalau terjadi kebakaran, contoh saja 18 orang. Kebakaran di Juata Laut, Bunyu, di Karungan, kebakaran di Amal, kebakaran misalnya di Juata Permai. Kalau dibagikan 18 orang, itu tidak bisa maksimal,” sebutnya.
Kondisi ini memaksa personel bekerja dengan waktu dan tenaga terbatas. Bahkan, sejumlah anggota harus beristirahat di lokasi setelah bertugas sejak pagi hingga pagi berikutnya.
Meski personel terbatas, BPBD menyatakan sarana dan prasarana yang tersedia masih cukup untuk menangani kondisi saat ini. Beberapa peralatan juga telah dimodifikasi agar dapat mendukung proses pemadaman.
Yonsep memperkirakan kondisi karhutla masih berpotensi berlangsung hingga September, bahkan lebih lama apabila cuaca kering terus terjadi. “Kalau melihat kondisi ini saya rasa lebih (lama cuaca panas),” tutupnya.