Bukan Asal Bakar, Warga Long Alango di Kaltara Punya Aturan Adat Ketat Cegah Karhutla

Penulis: Panji Pratama  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 12:46:31 WIB
Warga Desa Long Alango, Malinau, memastikan arah angin sebelum membakar lahan sebagai langkah awal pencegahan karhutla.

MALINAU — Praktik membakar lahan kerap menjadi tersangka utama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Namun, di Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, stigma itu terbantahkan oleh sistem peladangan tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Tokoh Desa Long Alango, Kipang, menegaskan warganya tidak pernah membuka lahan secara serampangan. Ada tata cara yang mengikat agar api tidak menjalar ke hutan primer atau lahan milik warga lain.

Membaca Angin Sebelum Membakar Lahan

Kipang menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan warga sebelum membakar adalah memastikan kondisi angin. Jika angin bertiup kencang, aktivitas pembakaran batal dilakukan.

"Ketika membuka lahan, yang pertama dilihat adalah arah angin. Kalau angin sedang kencang, tidak berani membakar. Baru setelah kondisi angin bagus dan mengarah ke lahan sendiri, pembakaran dilakukan," ujar Kipang kepada detikKalimantan, Senin (24/8/2026).

Gotong Royong Senguyun: Api Dijaga Bersama Hingga Padam

Mitigasi utama justru terletak pada tradisi gotong royong yang disebut senguyun. Saat satu lahan dibakar, pemilik lahan tidak sendirian. Warga lain ikut menunggui dan mengawasi api secara berkelompok.

"Mereka tidak akan pulang selama api di lahan belum padam. Jadi dijaga bersama-sama agar tidak menyebar ke lahan tetangga maupun kawasan hutan di sekitarnya," imbuhnya.

Menariknya, tradisi ini bukan sekadar aktivitas bertani. Kipang menyebut senguyun menjadi medium interaksi sosial. Pemilik lahan yang dibantu wajib menyediakan konsumsi penuh pada hari itu sebagai bentuk penghargaan.

Lahan Maksimal 1 Hektare dengan Sistem Rotasi Lima Tahun

Luas lahan yang dibuka pun sangat terukur. Warga hanya membuka lahan maksimal 1 hektare, disesuaikan dengan kemampuan tenaga keluarga untuk merawat hingga panen. Mereka juga menerapkan sistem rotasi lima tahunan untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Lahan yang dibakar pada Agustus ini bukanlah hutan primer, melainkan area belukar bekas ladang yang sebelumnya pernah digarap. Warga memilih jalur bakar lantaran dikejar tenggat waktu musim tanam.

"Masyarakat butuh waktu cepat untuk segera tanam padi karena dikejar musim. Kalau sisa tebasan hanya ditumpuk lalu dibiarkan, butuh waktu sangat lama membusuk. Kalau lewat musim tanam bulan September, hasil panen nanti tidak sesuai harapan," terangnya.

Jeda Ibadah dan Menunggu Panen Padi Lokal

Di tengah ketatnya jadwal mengejar musim tanam, warga tetap memegang teguh aturan agama dan adat. Setiap hari Minggu, seluruh aktivitas di ladang dihentikan total sebagai waktu khusus untuk beribadah dan beristirahat.

Setelah fase tanam selesai, warga mengisi jeda waktu dengan menanam sayur dan cabai sembari menunggu masa panen padi lokal yang biasanya jatuh pada Januari atau Februari mendatang.

Tradisi ini terus dipertahankan warga sebagai benteng ketahanan pangan sekaligus tameng pelestarian alam di Bahau Hulu.

Reporter: Panji Pratama
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top