KALIMANTAN UTARA — Jumlah startup aktif di Indonesia memang tembus 3.100 perusahaan, menempatkan Tanah Air di peringkat keenam dunia dan tertinggi di Asia Tenggara. Namun, capaian kuantitatif itu berbanding terbalik dengan kondisi ekosistem. Berdasarkan Global Startup Ecosystem Index 2026, kualitas ekosistem startup Indonesia hanya berada di peringkat 45 dunia, sementara Jakarta sebagai pusat ekonomi digital nasional menempati posisi ke-30 di tingkat global.
Agus Gumiwang menyebut jarak antara peringkat kuantitas dan kualitas ini sangat timpang dan menjadi tantangan bagi pemerintah serta pemangku kepentingan. Ia menegaskan bahwa jumlah startup yang besar tidak otomatis mencerminkan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan.
"Peringkat ke-6 dalam jumlah, tetapi peringkat ke-45 dalam mutu. Gap-nya besar sekali. Jarak di antara dua angka itulah yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama agar pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat memperkecilnya," ujar Agus dalam peluncuran Indo Startup Expo 2026 di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Data Kementerian Perindustrian mencatat kontraksi pendanaan startup terjadi sangat dalam. Pada 2025, total pendanaan hanya US$ 355 juta, jauh di bawah realisasi 2024 yang mencapai US$ 695 juta. Lebih dramatis lagi, angka tersebut merosot sangat jauh dari puncak investment boom 2021 yang sempat menembus US$ 7 miliar.
Koreksi ini menandakan pergeseran perilaku investor modal ventura. Kini, para venture capital bertindak lebih rasional dan selektif. Nilai Gross Merchandise Value (GMV) yang besar tidak lagi cukup menarik jika tidak diimbangi unit economics yang positif, EBITDA yang sehat, serta peta jalan menuju profitabilitas yang realistis.
Menghadapi musim dingin pendanaan yang berkepanjangan, arah inovasi startup dinilai perlu diubah. Agus menggarisbawahi agar perusahaan rintisan tidak lagi terpaku pada aplikasi konsumer yang sifatnya musiman, melainkan mulai menyasar sektor-sektor riil yang membutuhkan efisiensi tinggi.
"Startup-startup tersebut harus mampu menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah nyata yang ada di pabrik, dunia industri, hingga sektor manufaktur," lanjut Agus.
Langkah ini dinilai strategis karena pasar industri pengolahan nasional terus tumbuh dan melibatkan lebih dari 4,43 juta unit Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang membutuhkan modernisasi teknologi.
Angka 3.100 startup bukanlah garis akhir keberhasilan ekosistem digital Indonesia. Tanpa efisiensi operasional yang ketat, manajemen risiko yang matang, dan fokus pada pemecahan masalah bisnis konkret, ribuan perusahaan rintisan tersebut berisiko tergilas oleh koreksi pasar.
Tantangan terbesar saat ini bukan lagi menambah kuantitas entitas baru, melainkan memastikan bisnis yang sudah ada mampu bertahan hidup secara mandiri tanpa bergantung pada suntikan modal asing.