KALIMANTAN UTARA — Level saat ini masih jauh dari rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 29 Januari 2026, yakni Rp 3.168.000 per gram. Kala itu, harga buyback berada di posisi Rp 2.989.000 per gram.
Koreksi hari ini melebarkan selisih harga jual dan buyback menjadi Rp 154.000 per gram. Selisih ini merupakan biaya yang harus ditanggung konsumen saat menjual kembali emas batangannya ke Antam.
Seluruh harga mengacu pada situs resmi Logam Mulia, unit bisnis Antam. Harga emas Antam bersifat fluktuatif dan berubah mengikuti dinamika pasar global.
Untuk pecahan terkecil, emas 0,5 gram dijual Rp 1.382.000. Sementara ukuran 1 gram dibanderol Rp 2.664.000. Berikut rincian lengkap harga emas Antam Jumat ini:
Di pasar global, harga emas spot merosot 0,9% ke US$ 4.366,38 per ons pada Kamis (13/8) waktu setempat. Sebelumnya, harga sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni di US$ 4.449,39 sebelum akhirnya jatuh.
Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, menyebut level US$ 4.500 sebagai titik resistensi yang kuat. "Harga sempat menyentuhnya dua kali dan kemudian anjlok dari titik tersebut; saat ini, para pedagang merasa waswas saat harga mendekati level 4.500," ujarnya.
Analis independen Tai Wong menambahkan, lonjakan harga hingga 9% dalam sepekan terakhir didorong pembelian dari Tiongkok dan sektor ritel. "Kini terlihat adanya aksi ambil untung di sekitar level rata-rata pergerakan 100 hari," katanya.
Koreksi emas terjadi meski data inflasi AS menunjukkan perlambatan. Indeks Harga Produsen (PPI) AS tercatat tidak berubah pada Juli, menyusul laporan harga konsumen yang naik 3,4% dalam 12 bulan hingga Juli—turun dari 3,5% pada Juni.
Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September hanya 34%, turun dari 40% setelah data PPI dirilis. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang kepemilikan emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.
Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menegaskan kembali perlunya menaikkan suku bunga "saat ini juga". Pernyataan ini menjadi penyeimbang ekspektasi pasar yang mulai optimistis terhadap pelonggaran moneter.
Bagi investor ritel Indonesia, koreksi ini bisa menjadi momen akumulasi pembelian. Namun, harga buyback yang lebih rendah membuat keuntungan jangka pendek terbatas jika menjual dalam waktu dekat.