Bukan Cuma Operator: Ini Alasan Infrastruktur 5G di Indonesia Masih Seperti "Jalan Tol Baru"

Penulis: Naufal Aditama  •  Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:56:31 WIB
Infrastruktur 5G di Indonesia masih terbatas karena karakteristik frekuensi dan biaya pembangunan yang tinggi.

KALIMANTAN UTARA — Sudah tiga tahun lebih 5G dikomersialkan di Indonesia, namun ikon "5G" di layar ponsel masih sering berganti menjadi "4G" hanya karena berpindah beberapa ratus meter. Banyak pengguna yang merasa janggal: perangkat sudah mendukung, tetapi sinyal tidak kunjung datang. Kondisi ini wajar, dan penyebabnya lebih dalam dari sekadar kelambanan operator.

Untuk memahami kenapa 5G belum sehebat 4G dalam hal jangkauan, kita harus melihat dari dua sisi: karakteristik gelombang frekuensi dan ekonomi pembangunan infrastruktur. Keduanya saling terkait dan menjadi alasan utama mengapa pemerataan sinyal 5G butuh waktu bertahun-tahun lagi.

Karakter Frekuensi: Kecepatan Tinggi vs Jangkauan Luas

Setiap operator memegang lisensi frekuensi dengan karakteristik berbeda. Frekuensi rendah (low-band) punya jangkauan luas dan tembus bangunan, tetapi bandwidth-nya terbatas. Sebaliknya, frekuensi tinggi (high-band) menawarkan kecepatan luar biasa, tapi gampang terhalang dan jangkauannya pendek.

Inilah dilema utamanya. Operator harus memilih: memasang frekuensi tinggi di area kecil yang padat trafik, atau memakai frekuensi rendah demi cakupan lebih luas tapi kecepatan tidak maksimal. Menurut GSMA, pembagian spektrum low-, mid-, dan high-band memang memiliki trade-off yang tidak bisa dihindari.

Akibatnya, di satu titik pengguna bisa mendapatkan kecepatan unduh sangat tinggi, tapi beberapa meter kemudian sinyal hilang. Ini bukan kerusakan jaringan, melainkan desain konfigurasi BTS yang memang diarahkan untuk area prioritas tertentu.

Biaya Infrastruktur: Semakin Padat, Semakin Mahal

Membangun jaringan 5G tidak semudah memperbarui software di BTS yang sudah ada. Operator wajib menyiapkan perangkat radio baru, antena, backhaul, jaringan inti, hingga pasokan listrik dan kabel fiber. Semua itu butuh investasi besar.

Masalahnya, untuk menutup area yang sama, 5G di frekuensi tinggi membutuhkan lebih banyak BTS dibanding 4G. Setiap penambahan site berarti biaya pembangunan dan operasional yang terus menumpuk. Operator pun harus selektif menentukan wilayah prioritas—biasanya kota besar dengan trafik data tinggi lebih menarik secara bisnis dibanding daerah dengan pengguna sedikit.

Ini juga menjawab kenapa 4G jauh lebih merata. Jaringan 4G komersial sejak Desember 2014, memberi operator waktu hampir satu dekade untuk membangun dan memperluas infrastruktur. Sementara 5G baru berjalan beberapa tahun, jadi wajar jika cakupannya belum setara.

5G Lebih Lambat dari 4G? Bisa Terjadi

Ada skenario di mana ikon 5G muncul tetapi kecepatan justru di bawah 4G. Ini terjadi ketika perangkat terhubung ke sel 5G dengan kualitas sinyal buruk—misalnya di frekuensi rendah yang bandwidth-nya terbatas—sementara jaringan 4G di lokasi yang sama sedang dalam kondisi optimal. Pengguna yang tidak paham teknis akan menganggap ini sebagai kegagalan operator, padahal ini konsekuensi alami dari spektrum yang digunakan.

Kesimpulan: Butuh Waktu, Bukan Cuma Kesalahan Operator

Pemerataan 5G di Indonesia bukan proyek jangka pendek. Operator harus menyeimbangkan antara kebutuhan cakupan luas dan kecepatan tinggi dengan biaya pembangunan yang membengkak. Untuk saat ini, pemilik HP 5G sebaiknya tidak berharap sinyal selalu muncul di semua lokasi. Ini bukan soal perangkat, melainkan tahapan evolusi infrastruktur yang masih berjalan.

Yang perlu diperhatikan: sebelum membeli HP 5G, cek dulu peta cakupan operator di area tempat tinggal dan kerja kamu. Kalau domisilimu belum masuk area prioritas, fitur 5G hanya akan jadi pajangan—dan kamu membayar lebih untuk sesuatu yang belum bisa dipakai maksimal.

Reporter: Naufal Aditama
Sumber: jagatreview.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top