KALIMANTAN UTARA — Menpora Erick Thohir membuka peluang bagi cabang olahraga yang ingin berangkat atas biaya sendiri. Namun, ia menegaskan bahwa pembiayaan mandiri tidak serta-merta menghapus kewajiban untuk berprestasi di panggung Asia.
"Kalau ada yang berinisiatif berangkat mandiri, kami persilakan," kata Erick dalam keterangan resmi yang dikutip dari Antara, Kamis (24/4).
Erick menjelaskan, pemerintah saat ini menerapkan kebijakan selektif dalam pembiayaan atlet. Hanya cabang olahraga yang memiliki ukuran prestasi jelas dan diprediksi meraih medali yang akan didanai penuh oleh negara.
"Sekarang di Kemenpora kita harus spesifik dan targeted. Semua harus ada penilaiannya," ujarnya.
Konsekuensinya, atlet yang berangkat mandiri harus memaksimalkan kesempatan ini untuk membuktikan eksistensi. Meski begitu, Erick memberi catatan tegas: jika berhasil naik podium, belum tentu mereka mendapatkan bonus dari pemerintah.
"Kalau mencapai target, belum tentu ada bonus karena keberangkatannya mandiri," katanya.
Di balik aturan ini, ada peluang yang bisa dimanfaatkan para atlet. Erick mengisyaratkan, performa gemilang di Nagoya nanti bisa menjadi bahan penilaian untuk pembiayaan pemerintah pada ajang berikutnya.
"Apakah mereka akan dihitung sebagai bagian dari KPI untuk kegiatan ke depan? Itu bisa menjadi penilaian tersendiri," ujarnya.
Dengan kata lain, medali yang diraih secara mandiri bisa menjadi tiket emas untuk mendapatkan dukungan penuh negara di masa mendatang.
Sebelumnya, Komite Olimpiade Indonesia (KOI) atau NOC Indonesia telah menetapkan komposisi kontingen untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Sebanyak 432 atlet dari 35 cabang olahraga akan memperkuat Merah Putih.
Kontingen ini juga diperkuat oleh 148 pelatih dan ofisial, serta 32 anggota tim Chef de Mission (CdM). NOC Indonesia menegaskan bahwa perbedaan sumber pendanaan tidak akan membedakan target prestasi antara cabor yang dibiayai APBN dan yang berangkat mandiri.
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dijadwalkan berlangsung pada September tahun depan. Ini menjadi panggung pembuktian bagi seluruh atlet Indonesia, termasuk mereka yang berjuang tanpa sokongan dana pemerintah.