KALIMANTAN UTARA — Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun Antara, kurs rupiah melemah 8 poin atau 0,04 persen dibandingkan penutupan perdagangan Selasa sore di level Rp17.861 per dolar AS. Meski tipis, pelemahan pagi ini menegaskan tekanan beruntun yang dihadapi mata uang Garuda setelah pada perdagangan kemarin rupiah sudah terdepresiasi cukup dalam.
Pada Selasa (11/8), rupiah tercatat ambles 106 poin atau 0,60 persen sepanjang hari perdagangan. Posisi penutupan sore itu sebesar Rp17.861 per dolar AS, membalikkan penguatan tipis yang sempat terjadi di awal sesi. Sebelumnya, pembukaan pasar Selasa pagi sempat menempatkan rupiah di level Rp17.795 per dolar AS, yang berarti rupiah sudah melemah 40 poin dibandingkan penutupan Senin.
Bank Indonesia (BI) melalui kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga merefleksikan pelemahan tersebut. JISDOR tercatat turun ke posisi Rp17.824 per dolar AS pada perdagangan kemarin, dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.795 per dolar AS. Koreksi pada kurs acuan ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah bukan hanya fenomena pasar spot, melainkan juga terkonfirmasi dari sisi fundamental transaksi antarbank.
Pelemahan yang terjadi dua hari beruntun ini menunjukkan bahwa pelaku pasar masih cenderung memegang dolar AS. Permintaan valas yang tinggi, baik untuk kebutuhan korporasi maupun lindung nilai, menjadi faktor utama yang menahan laju rupiah untuk menguat.
Dari sisi eksternal, sentimen pasar masih diselimuti ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Data ekonomi AS yang dirilis pekan lalu memberikan sinyal bahwa inflasi di negara tersebut belum sepenuhnya terkendali, sehingga pasar berspekulasi Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Kondisi ini membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tetap atraktif, menarik arus modal keluar dari negara berkembang termasuk Indonesia. Pelaku pasar pun memilih beralih ke aset safe haven, yang semakin memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang Asia lainnya.
Pergerakan rupiah yang volatil dalam dua hari terakhir menjadi perhatian pelaku pasar. Setelah sempat berada di level Rp17.755, rupiah kini sudah kehilangan lebih dari 100 poin dalam sepekan terakhir. Jika tekanan berlanjut, level psikologis Rp17.900 berpotensi diuji dalam waktu dekat.
Para analis menilai intervensi Bank Indonesia tetap menjadi kunci untuk menahan laju pelemahan. Namun, efektivitas intervensi akan sangat bergantung pada kekuatan permintaan dolar di pasar domestik, khususnya dari importir dan perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing.
Investor dan pelaku usaha yang memiliki eksposur terhadap dolar AS disarankan untuk mencermati pergerakan kurs secara ketat. Fluktuasi nilai tukar yang tajam berpotensi mempengaruhi margin keuntungan perusahaan, terutama bagi sektor yang bergantung pada bahan baku impor.