Yayasan Muslih Center Kaltara Gelar Bazar Cinta Rupiah di Sebatik Timur, 50 Stand Dikelola Siswa PAUD dan SD Islam Al-Hiro

Penulis: Panji Pratama  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 23:58:31 WIB
Ratusan warga memadati Teras Masjid Islahul Ummah, Desa Sungai Nyamuk, Sebatik Timur, untuk menyaksikan Bazar Cinta Rupiah yang digelar Yayasan Muslih Center Kaltara.

NUNUKAN — Ratusan warga memadati Teras Masjid Islahul Ummah di Desa Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik Timur, sejak pagi. Mereka menyambut kehadiran Bazar Cinta Rupiah yang digagas Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara melalui PAUD Islam Al-Hiro dan SD Islam Al-Hiro pada Kamis (6/8).

Berbeda dari bazar pada umumnya, stan-stan yang berdiri bukan dikelola pedagang dewasa. Sekitar 50 stand bazar dijalankan langsung oleh anak-anak didik dengan pendampingan guru dan orang tua. Produk yang dijajakan pun beragam, mulai dari makanan tradisional, aneka jajanan, minuman, hingga buah tangan khas Indonesia.

Anak-Anak Belajar Berdagang dan Mengenal Rupiah Sejak Dini

Ketua Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara, Dr. Wahyudi, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai proses pendidikan karakter, bukan sekadar seremoni kemerdekaan. Anak-anak diajak mengalami langsung praktik berdagang yang jujur, menghitung uang, melayani pembeli, hingga berkomunikasi dengan masyarakat.

"Kegiatan ini bukan sekadar simbol, jargon, atau seremoni cinta Rupiah dan cinta tanah air. Yang kami bangun adalah praktik nyata melalui pembiasaan (habituasi) kepada Generasi Alpha pada masa emas pertumbuhannya," ujar Wahyudi dalam sambutannya.

Menurutnya, pendekatan ini relevan diterapkan di Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Aktivitas ekonomi lintas batas yang identik dengan penggunaan Ringgit Malaysia dan beredarnya produk negara tetangga menjadi tantangan tersendiri dalam menanamkan nasionalisme.

Mengapa Pendidikan Karakter Ini Krusial di Perbatasan?

Wahyudi menjelaskan, kecintaan terhadap Indonesia tidak cukup dibangun melalui ceramah atau slogan. Ia mencontohkan, anak-anak di Sebatik tumbuh di tengah transaksi harian yang kerap menggunakan mata uang asing. Tanpa pembiasaan yang konsisten, pemahaman tentang identitas kebangsaan bisa tergerus oleh kedekatan geografis dengan Malaysia.

Kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi dari hasil penelitian doktoral Wahyudi yang mengkaji penanaman nilai cinta tanah air di wilayah perbatasan. "Disertasi doktoral saya berbicara tentang bagaimana menanamkan cinta tanah air kepada masyarakat perbatasan. Salah satu kesimpulannya adalah nasionalisme akan lebih kuat apabila dibangun melalui pengalaman nyata," jelasnya.

Dukungan Pemerintah Kecamatan dan Antusiasme Warga

Mewakili Camat Sebatik Timur, Kasi Pemerintahan Kecamatan Sebatik Timur M. Alatas mengapresiasi inovasi pendidikan yang memadukan karakter, literasi keuangan, kewirausahaan, dan nasionalisme dalam satu kegiatan. Ia menyebut bazar ini dekat dengan kehidupan anak-anak sehingga mudah dicerna.

Selama bazar berlangsung, anak-anak tampak antusias menawarkan dagangan dan menerima pembayaran menggunakan Rupiah. Orang tua dan warga sekitar turut memadati lokasi untuk membeli produk yang dijual, sebagai bentuk dukungan terhadap proses belajar mereka.

Yayasan Muslih Center Kalimantan Utara menaungi PAUD Islam Al-Hiro, SD Islam Al-Hiro, dan TPQ Al-Hiro. Lembaga ini berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter Islami, jiwa kepemimpinan, dan nasionalisme yang kuat.

Reporter: Panji Pratama
Sumber: kaltara.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top