KALIMANTAN UTARA — Penyesuaian ini tercantum dalam laman resmi Pertamina yang dikutip Jumat (31/7). Sebelumnya, harga Pertamax sempat naik pada 10 Juni 2026, beberapa bulan setelah pemerintah menahan lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Kini, arah kebijakan berbalik menjadi penurunan.
Di wilayah Jabodetabek, perubahan harga berlaku merata untuk tiga varian bensin nonsubsidi. Namun, untuk segmen diesel, Pertamina memilih mempertahankan harga jualnya.
Sementara itu, harga BBM penugasan dan subsidi tidak berubah. Pertalite masih dipatok Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Kebijakan ini merupakan implementasi dari Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022, yang merupakan perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020. Regulasi tersebut mengatur formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis BBM umum untuk bensin dan minyak solar yang disalurkan melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Artinya, fluktuasi harga kali ini mengikuti tren harga minyak mentah global dan nilai tukar rupiah. Berbeda dengan Pertalite yang disubsidi pemerintah, harga Pertamax dan turunannya memang bergerak dinamis mengikuti mekanisme pasar.
Bagi pengguna kendaraan bermesin bensin beroktan tinggi, penurunan ini memberi ruang napas di tengah tekanan biaya operasional. Namun, pemilik kendaraan diesel tak kebagian momentum, karena harga Dex Series tetap bertahan di level tinggi.
Pertamina belum mengumumkan apakah penyesuaian ini akan berlaku hingga akhir Agustus atau akan dievaluasi kembali. Yang jelas, keputusan ini menjadi kabar baik bagi pemilik mobil dan motor yang mengandalkan Pertamax sebagai bahan bakar harian.