KALIMANTAN UTARA — Federal Bureau of Investigation (FBI), National Security Agency (NSA), Departemen Energi AS, dan Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) merilis peringatan bersama pada Rabu (pekan lalu). Isinya, peretas yang didukung pemerintah Iran secara aktif mengeksploitasi sistem kontrol industri (ICS) milik penyedia air dan listrik di Negeri Paman Sam.
Peringatan ini merupakan pembaruan dari laporan sebelumnya yang dirilis awal 2026. Kala itu, target utama serangan adalah PLC buatan Rockwell Automation. Kini, daftar sasaran bertambah mencakup produk dari Schneider Electric dan Siemens.
Para peretas menyusup ke PLC yang terhubung ke jaringan operasional (OT) yang terekspos internet. Modusnya, mereka mengubah logika pemrograman pengendali tersebut. Akibatnya, data yang ditampilkan di layar monitor operator bisa dimanipulasi, menyebabkan gangguan atau pemadaman.
FBI mengungkapkan satu insiden nyata di mana hacker berhasil membobol penyedia infrastruktur kritis. Mereka mengubah kode program PLC untuk menonaktifkan proses yang menangani pematian darurat dan alarm. “Sistem kemudian memasuki kondisi tidak aman tanpa memberi tahu operator tentang anomali tersebut,” tulis FBI dalam pernyataan resmi yang dikutip dalam laporan.
CISA memperingatkan bahwa “semua sistem kontrol industri yang terekspos internet berpotensi terpengaruh.” Otoritas AS mendesak pemilik infrastruktur kritis segera mengambil tindakan pengamanan.
Badan intelijen AS menilai aksi ini merupakan respons atas perang yang sedang berlangsung antara Iran dengan AS dan Israel sejak Februari 2026. “Para hacker melakukan aktivitas ini untuk menyebabkan efek disruptif di Amerika Serikat,” bunyi pernyataan bersama FBI, NSA, DoE, dan CISA.
Serangan siber Iran sepanjang periode tersebut bervariasi. Mulai dari operasi spionase klasik dan hack-and-leak, seperti membocorkan isi surel pribadi Direktur FBI Kash Patel, hingga aksi destruktif berskala besar.
Salah satu insiden paling menonjol adalah peretasan terhadap raksasa alat medis AS, Stryker. Kelompok hacker Iran bernama “Handala” mengaku bertanggung jawab dan berhasil menghapus (wipe) puluhan ribu perangkat karyawan Stryker dari jarak jauh.
Handala juga mengklaim bertanggung jawab atas kebocoran data yang menimpa penyedia air California, Cal Water, pada Juni 2026. Kelompok itu bahkan menyatakan bisa mengganggu pasokan air, meski tanpa memberikan bukti. Pihak Cal Water sendiri menyatakan tidak menemukan bukti akses tak sah ke jaringan operasional yang mengendalikan pasokan air mereka.
Peringatan terbaru ini menegaskan kembali betapa rentannya infrastruktur kritis yang menggunakan sistem lawas dan terhubung langsung ke internet. Bagi pengamat keamanan siber, pola serangan ini mengingatkan pada insiden serupa yang pernah menimpa fasilitas air di Oldsmar, Florida, pada 2021 silam.