KALIMANTAN UTARA — Bagi Michael Donald, proyek memotret 34 dari 58 pria yang pernah mencetak gol di final Piala Dunia adalah misi empat tahun yang membawanya ke 13 negara. Salah satu bidikan paling berkesan justru lahir di lingkungan paling berbahaya: favela Manguinhos, Rio de Janeiro.
Donald dan timnya tiba di lapangan umum di favela tersebut bersama Jairzinho. Di sana, legenda Brasil itu menjalani hari-harinya melatih anak-anak kurang mampu. Namun, ada aturan tak tertulis yang keras: siapa pun yang bukan warga favela harus keluar sebelum pukul 17.00 waktu setempat.
“Kami harus menyewa keamanan dari geng narkoba lokal. Tapi mereka hanya anak-anak, dan pada sore hari mereka bosan lalu pergi,” kenang Donald. Saat sesi pemotretan hampir usai, Donald melihat sebuah meja foosball tua yang indah di luar bar. Ia langsung meminta waktu tambahan 10 menit kepada sutradara dan produser.
Saat asistennya, Stevie, memegang lampu kecil dan Donald sibuk mengatur komposisi di Hasselblad-nya, situasi di belakang kamera mulai memanas. Seorang pria bersepeda mendekat, melintas di belakang subjek, lalu berhenti di dekat kru.
“Saya dengar percakapan makin panas. Sutradara saya, Dan, bilang ‘Michael, kita harus pergi’,” ujar Donald. Namun, karena Jairzinho masih nyaman berpose, Donald memilih melanjutkan pemotretan beberapa menit lagi. “Begitu saya yakin dapat gambarnya, saya menoleh. Pria di sepeda itu sudah menarik pistol ke Dan dan Gretha, produser saya. Dan berkata, ‘Kau mengerti sekarang?’”
Bagian kru dan fixer lokal sudah lebih dulu kabur. Hanya Donald, asistennya, dan Jairzinho yang terlalu fokus pada bidikan sehingga tak menyadari ancaman. “Dan dan Gretha bisa saja memaksa kami pergi. Saya sangat menghargai mereka memberi saya waktu untuk mendapatkan bidikan yang saya inginkan,” kata Donald.
Yang membuat foto ini spesial bagi Donald justru kontrasnya. “Kekacauan di balik kamera sama sekali tidak terlihat di potret. Itu yang sering terjadi dalam fotografi,” pungkasnya. Hasilnya: potret tenang Jairzinho di depan meja foosball, tanpa sedikit pun petunjuk bahwa nyawa sang fotografer dan krunya nyaris melayang saat itu juga.