KALIMANTAN UTARA — Kurs rupiah melemah 44 poin atau 0,24% dalam sehari, memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung sejak pekan lalu. Data JISDOR Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan pelemahan lebih dalam, di mana rupiah ambles ke posisi Rp18.131 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.069. Tekanan terhadap mata uang Garuda kian terasa di tengah ketidakpastian geopolitik dan domestik yang simultan.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut eskalasi militer di Timur Tengah menjadi pemicu utama aksi jual aset berisiko, termasuk rupiah. Iran dan AS saling melancarkan serangan rudal dan drone berat pada akhir pekan lalu. Teheran menargetkan fasilitas AS di sejumlah negara Teluk dan mengklaim telah kembali menutup Selat Hormuz yang vital bagi pasokan energi global.
“Kekerasan yang kembali terjadi ini menimbulkan keraguan lebih lanjut tentang masa depan perjanjian sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu,” tulis Ibrahim dalam risetnya. Perjanjian yang bertujuan membuka kembali selat tersebut dan mengakhiri perang dalam 60 hari negosiasi kini di ambang kegagalan.
Serangan Iran kali ini meluas hingga ke Qatar, yang sebelumnya menjadi mediator dalam pembicaraan gencatan senjata. Uni Emirat Arab (UEA) juga melaporkan telah mencegat rudal dan drone Iran. Presiden AS Donald Trump membantah klaim penutupan selat tersebut dan menyatakan pengiriman komersial tetap berjalan di bawah perlindungan militer AS.
Selain tekanan eksternal, pasar juga dihadapkan pada sentimen negatif dari dalam negeri. Kasus mega korupsi yang kembali mencuat menjadi faktor tambahan yang mendorong investor asing melepas aset rupiah. Ketidakpastian hukum dan risiko tata kelola yang memburuk membuat pelaku pasar cenderung wait and see.
Kondisi ini memperkuat tekanan pada neraca perdagangan dan arus modal masuk. Data BI menunjukkan, posisi cadangan devisa juga terpantau menurun dalam beberapa pekan terakhir akibat intervensi stabilisasi nilai tukar yang terus dilakukan bank sentral.
Pelaku pasar kini mencermati langkah BI dalam menahan laju pelemahan rupiah. Sejumlah analis memperkirakan volatilitas kurs masih akan tinggi dalam jangka pendek, terutama jika konflik AS-Iran terus berlanjut tanpa kesepakatan baru.
Dari sisi domestik, pengumuman data inflasi dan neraca perdagangan pada pekan ini akan menjadi katalis berikutnya bagi pergerakan rupiah. Jika data menunjukkan pelemahan fundamental, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin dalam.
Investasi mengandung risiko.