NUNUKAN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nunukan masih berjalan normal. Wakil Kepala Regional Wilayah Kalimantan Utara Sulaimana menegaskan, belum ada perubahan skema meski Kepala BGN berganti. Seluruh kegiatan tetap mengacu pada mekanisme yang berlaku dan berjalan bertahap sesuai kesiapan infrastruktur serta keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sebanyak 15 SPPG telah beroperasi di Nunukan. Sebarannya meliputi enam SPPG di Pulau Sebatik, delapan SPPG di Nunukan dan Nunukan Selatan, serta masing-masing satu SPPG di Atulai dan Sebuku. Untuk kecamatan lain, survei dan penjajakan lokasi masih berlangsung guna memperluas jangkauan layanan.
“Sejauh ini belum ada perubahan program meski kepala BGN sudah berganti. Pelaksanaan MBG di Nunukan masih berjalan seperti biasa. Kecamatan yang belum terlayani masih dalam tahap survei,” ujar Sulaimana, Rabu (10/6/2026).
Empat SPPG di Nunukan yang sempat mengalami suspensi operasional kini telah kembali melayani peserta didik. Dari sisi cakupan, sebagian besar sekolah di Nunukan dan Nunukan Selatan telah menerima manfaat program. Namun, beberapa sekolah di Sei Lancang dan Binusan—meliputi SD, SMP, serta TK/PAUD—masih belum terjangkau.
Menurut Sulaimana, kendala yang terjadi bukan akibat pembayaran kepada penyedia layanan di Nunukan, melainkan keterlambatan pengisian dana atau top up operasional. Sistem yang berlaku mengharuskan dana masuk terlebih dahulu sebelum penyediaan makanan berjalan. Keterlambatan pencairan dana berpotensi mengganggu operasional SPPG sementara.
“Kalau di Nunukan relatif aman. Dana harus masuk dulu baru kegiatan berjalan. Kendala seperti yang terjadi di Tarakan beberapa waktu lalu karena dana terlambat masuk, sehingga SPPG sempat tidak beroperasi sementara,” jelasnya.
Setiap SPPG saat ini rata-rata melayani sekitar 3.000 siswa penerima manfaat. Dengan bertambahnya jumlah SPPG ke depan, cakupan penerima MBG di Kabupaten Nunukan diharapkan semakin luas hingga menjangkau seluruh kecamatan.
Salah satu guru di SMA Negeri 1 Nunukan, Sugi, mengatakan pihak sekolah sempat merasakan dampak ketika layanan MBG dihentikan sementara akibat suspensi operasional SPPG. Namun, kondisi itu tidak berlangsung lama dan kini layanan telah kembali normal.
“Saat program sempat terhenti, siswa menanyakan kapan makanan bergizi kembali diberikan. Kami memahami ada proses administrasi dan teknis yang harus diselesaikan. Syukurlah sekarang program sudah kembali berjalan,” ujar Sugi.
Ia menilai keberadaan program MBG sangat membantu para siswa, terutama dalam mendukung pemenuhan gizi selama kegiatan belajar mengajar. Pemerintah bersama pihak terkait terus melakukan evaluasi dan pemetaan kebutuhan di lapangan guna memastikan program strategis nasional ini berjalan optimal dan memberikan manfaat bagi seluruh peserta didik yang menjadi sasaran.