KALIMANTAN UTARA — Kenaikan harga Pertamax terjadi bersamaan dengan jenis Pertamax Green 95 (RON 95) yang naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Kenaikan ini membuat selisih harga dengan Pertalite makin lebar, sehingga permintaan terhadap BBM bersubsidi itu meningkat.
Pertamina sendiri telah menerapkan sistem barcode untuk pembelian Pertalite dan Solar sejak beberapa waktu lalu. Tujuannya, memastikan distribusi BBM bersubsidi tepat sasaran dan mencegah penimbunan atau penyalahgunaan kuota.
Bagi Sobat Medcom yang sudah mendaftar namun belum menerima barcode, jangan panik. Proses verifikasi kadang memakan waktu. Untuk mengecek status pengajuan, ikuti langkah-langkah berikut:
Jika pengajuan ditolak, biasanya akan muncul penjelasan penyebabnya, misalnya dokumen kurang jelas atau data tidak valid. Anda bisa mengulang pendaftaran dengan melengkapi data yang diminta.
Barcode Pertamina menjadi kunci untuk membeli Pertalite dan Solar di SPBU. Setelah terdaftar, transaksi jadi lebih cepat karena petugas cukup memindai barcode Anda. Sebaliknya, jika tidak memiliki barcode, kemungkinan besar Anda tidak bisa membeli Pertalite di SPBU.
Sistem ini juga membantu pemerintah mengontrol volume subsidi. Dengan data pengguna yang valid, Pertamina bisa memetakan siapa saja yang berhak menerima subsidi BBM dan memastikan kuota tidak bocor ke pihak yang tidak berhak.
Bagi Sobat Medcom yang masih bingung atau belum mendaftar, segera lakukan pendaftaran melalui situs resmi Subsidi Tepat atau aplikasi MyPertamina. Jangan sampai kehabisan karena proses verifikasi bisa memakan waktu beberapa hari.