KALIMANTAN UTARA — Bank Indonesia resmi menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen, Selasa (9/6). Keputusan itu diambil dalam Rapat Dewan Gubernur bulanan sebagai respons atas pelemahan rupiah yang dinilai telah melampaui proyeksi bank sentral. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal bagi pasar bahwa otoritas moneter Indonesia siap bertindak di tengah ketidakpastian global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut respons pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan langsung terlihat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 404,51 poin atau 7,57 persen ke posisi 5.746,65 pada perdagangan Selasa sore.
“BI Rate itu naik karena mengutamakan kestabilan. Jadi dengan BI-Rate naik, kelihatan respons daripada IHSG juga baik, masuk dalam green zone. Kemudian yang kedua, rupiah juga sedikit menguat,” kata Airlangga di Jakarta, Selasa (9/6). Nilai tukar rupiah tercatat menguat 130 poin atau 0,71 persen menjadi Rp18.058 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp18.188 per dolar AS.
Airlangga menegaskan kebijakan moneter yang ketat tidak berdiri sendiri. Pemerintah, kata dia, tetap mengandalkan fundamental ekonomi yang kuat sebagai penyangga utama. Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan menjadi salah satu indikator yang disebutkan.
“Ekonomi kan memang dasarnya juga kuat ya, baik dari segi ekspor, dari segi makro,” ujar Airlangga. Ia menambahkan, dunia internasional turut memberikan pengakuan. Singapura disebutnya mengapresiasi kebijakan ekonomi Indonesia, termasuk kebijakan ekspor satu pintu yang dinilai berorientasi pada kepentingan nasional.
Di tengah perang di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok global, Airlangga menilai Indonesia memiliki posisi tawar yang cukup kuat. Sektor pupuk menjadi salah satu andalan. Indonesia disebut masih mampu mengekspor sekitar 1,5 juta ton urea ke berbagai negara kawasan.
“Indonesia adalah salah satu pabrik pupuk terbesar di ASEAN,” ungkap dia. Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa kebijakan moneter yang ketat tidak menghalangi sektor riil untuk tetap kompetitif di pasar internasional.
Menurut Airlangga, kenaikan BI Rate justru mendapat sambutan positif dari investor karena dianggap sebagai langkah antisipatif. “Market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang,” ujarnya. Pandangan itu, lanjutnya, menjadi modal penting untuk menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan eksternal.
Kenaikan suku bunga acuan ini menjadi yang pertama dalam beberapa bulan terakhir. Bank Indonesia sebelumnya mempertahankan suku bunga di level 5,25 persen sejak awal tahun. Keputusan terbaru ini menandai pergeseran sikap bank sentral yang kini lebih agresif dalam menjaga stabilitas nilai tukar.