TARAKAN — Inflasi Kota Tarakan pada Mei 2026 tercatat 0,41 persen secara month to month (m-to-m), setelah pada bulan sebelumnya daerah ini sempat mengalami deflasi. Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, menyebut lonjakan tarif angkutan udara sebagai biang kerok utama di balik tekanan harga tersebut.
“Pada Mei 2026 Kota Tarakan mengalami inflasi month to month sebesar 0,41 persen, angkutan udara memberikan andil dominan terhadap inflasi,” jelas Umar dalam keterangan resminya, Selasa (9/6/2026).
Ia menambahkan, pergerakan harga pada sektor transportasi udara masih menjadi faktor yang sangat sensitif terhadap dinamika inflasi daerah, terutama di wilayah yang bergantung pada mobilitas antarwilayah seperti Tarakan. Kelompok transportasi memberikan andil inflasi terbesar, yakni 0,37 persen.
Secara komoditas, angkutan udara tercatat sebagai penyumbang inflasi tertinggi dengan andil 0,3275 persen. Angka ini jauh melampaui komoditas lain seperti bakso siap santap (0,0557 persen), sawi hijau (0,0538 persen), dan minyak goreng (0,0276 persen).
Komoditas lain yang ikut mendorong inflasi adalah es (0,0273 persen), soto (0,0249 persen), bahan bakar rumah tangga (0,0245 persen), sepeda motor (0,0239 persen), tomat (0,0201 persen), dan beras (0,0168 persen).
Tekanan deflasi justru berasal dari emas perhiasan (-0,0953 persen), telur ayam ras (-0,0634 persen), dan daging ayam ras (-0,0616 persen). Cabai rawit, bawang merah, bayam, dan terong juga turut menahan laju inflasi bulanan.
“Dari sisi komoditas, inflasi terutama didorong oleh sejumlah kebutuhan seperti makanan siap saji, sayuran, minyak goreng, serta beras. Sementara deflasi ditahan oleh komoditas seperti emas perhiasan, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah,” ungkap Umar.
Secara kumulatif, inflasi Kota Tarakan tercatat 1,42 persen secara year to date (y-to-d). Sementara itu, inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) berada pada level 3,08 persen.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibanding inflasi Provinsi Kalimantan Utara yang berada pada 2,90 persen, namun masih sejalan dengan inflasi nasional yang juga berada di angka 3,08 persen.
“Pengendalian inflasi tetap memerlukan perhatian bersama, terutama pada komponen yang sangat sensitif seperti transportasi udara yang sangat dipengaruhi kondisi permintaan dan mobilitas masyarakat,” pungkas Umar. (**)