TARAKAN — Supa’ad Hadianto, legislator asal Kalimantan Utara, mengingatkan warga perantauan asal Blora yang menetap di Kota Tarakan untuk tidak melupakan tradisi saling bertemu. Pesan itu ia sampaikan di tengah acara arisan dan silaturahmi yang digelar Jawara di Perumahan Intraca, pekan lalu.
Menurut Supa’ad, organisasi masyarakat akan bertahan lama jika anggotanya rajin berkomunikasi dan berjumpa secara langsung. “Organisasi akan tetap hidup jika anggotanya sering bertemu dan menjalin komunikasi. Dari situlah rasa persaudaraan akan tumbuh semakin kuat,” ujarnya.
Pria yang juga kader NasDem itu mengaku memiliki ikatan emosional dengan komunitas asal Blora dan Cepu. Ia menyebut faktor geografis daerah asal keluarganya membuatnya akrab dengan sejumlah paguyuban warga Jawa yang sudah lama eksis di Tarakan.
Supa’ad bahkan masih mengingat keaktifan komunitas warga Blora belasan tahun lalu. Ia mendorong semangat yang pernah dirintis generasi terdahulu untuk terus dilanjutkan, agar organisasi tetap menjadi wadah pemersatu di tanah rantau.
Dalam kesempatan tersebut, Supa’ad berbagi pengalaman saat memimpin Paguyuban Keluarga Warga Jawa (Pakuwaja) Kota Tarakan. Baginya, keberhasilan sebuah organisasi tidak diukur dari seberapa mewah acara yang digelar, melainkan dari konsistensi menjaga kebersamaan antaranggota.
“Jangan menunggu besar untuk bergerak. Semua organisasi besar lahir dari pertemuan-pertemuan sederhana yang dilakukan secara konsisten,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Supa’ad menyerahkan satu unit speaker aktif kepada pengurus Jawara. Bantuan itu diharapkan bisa menunjang berbagai agenda organisasi ke depan dan menjadi penyemangat bagi anggota untuk terus aktif.
Ia berharap peralatan tersebut dapat membantu kelancaran kegiatan sekaligus menjaga eksistensi organisasi di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan.
Menutup sambutannya, Supa’ad mengajak seluruh anggota Jawara untuk mempertahankan budaya guyub rukun yang menjadi ciri khas masyarakat Jawa. Menurutnya, nilai kebersamaan harus tetap dirawat meskipun berada jauh dari kampung halaman.
“Yang terpenting bukan seberapa banyak yang hadir, tetapi bagaimana kebersamaan itu terus dirawat. Jika silaturahmi tetap terjaga, organisasi akan semakin kuat dan bermanfaat bagi anggotanya,” pungkasnya.