NUNUKAN — Jembatan gantung yang menjadi satu-satunya akses menuju MI Darul Furqon di Sebatik Tengah ambruk setelah diterjang banjir. Peristiwa ini memutus akses puluhan siswa dan warga di dua dusun, sehingga orang tua tak punya pilihan selain menggendong anak-anak mereka menyeberangi sungai.
"Airnya deras, tapi anak harus sekolah. Kami bergantian menggendong dan menyeberang perlahan," ujar seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya, Selasa (18/2).
Banjir yang melanda Sebatik Tengah terjadi setelah hujan deras mengguyur selama dua hari berturut-turut. Debit sungai meluap dan menghantam tiang penyangga jembatan hingga ambruk pada Minggu (16/2) malam.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun puluhan keluarga kehilangan akses transportasi utama. Warga kini harus berjalan kaki memutar sejauh tiga kilometer atau menyeberangi sungai yang arusnya masih deras.
MI Darul Furqon terpaksa menunda jadwal ujian tengah semester selama dua hari. Sebanyak 47 siswa dari dua dusun tak bisa hadir pada hari pertama ujian karena akses putus total.
"Kami sudah koordinasi dengan orang tua. Ujian tetap jalan, tapi waktunya dimundurkan," kata Kepala MI Darul Furqon, Ahmad Zaini.
Selain sekolah, aktivitas ekonomi warga juga lumpuh. Pasokan sembako dari pasar kecamatan tak bisa masuk karena truk dan sepeda motor tak bisa melintas. Warga mengaku harga bahan pokok naik hingga 30 persen sejak jembatan ambruk.
Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui Dinas Pekerjaan Umum sudah turun ke lokasi untuk melakukan asesmen. Kepala Dinas PUPR Nunukan, M. Yusuf, menyatakan bahwa jembatan darurat akan segera dibangun dalam waktu dekat.
"Kami targetkan pembangunan jembatan selesai dalam dua pekan ke depan. Sementara ini, warga kami imbau menggunakan jalur alternatif yang sudah disiapkan," ujarnya.
Warga berharap pembangunan jembatan tidak molor. Pasalnya, musim hujan diprediksi masih berlangsung hingga Maret, dan ancaman banjir susulan masih mengintai.