KALIMANTAN UTARA — BYD resmi memperkenalkan teknologi Dual Mode (DM) pada Selasa (15/4) di Jakarta. Sistem ini menggabungkan motor listrik dan mesin konvensional dalam satu platform, memungkinkan pengemudi beralih antara mode listrik murni dan hibrida sesuai kebutuhan. Klaim konsumsi bahan bakar mencapai 65 km/liter menjadi nilai jual utama, terutama bagi pengguna yang menginginkan efisiensi tinggi tanpa khawatir jarak tempuh.
Sistem DM BYD dirancang untuk menjawab dua kebutuhan sekaligus: mobilitas harian di perkotaan yang padat dan perjalanan antarkota. Pada kecepatan rendah dan lalu lintas stop-and-go, pengemudi bisa memanfaatkan mode listrik murni untuk menghemat bahan bakar. Saat kecepatan tinggi atau akselerasi berat, mesin bensin akan mengambil alih secara otomatis.
BYD mengklaim transisi antara kedua mode ini berlangsung mulus tanpa hentakan berarti. Sistem manajemen energi yang disematkan juga mampu memilih sumber tenaga paling efisien berdasarkan kondisi jalan dan gaya berkendara. Teknologi ini bukan sekadar tempelan, melainkan diintegrasikan langsung ke dalam arsitektur kendaraan sejak awal pengembangan.
Angka 65 km/liter yang disebutkan BYD merupakan hasil pengujian internal pabrikan. Meski belum diverifikasi oleh lembaga independen di Indonesia, klaim ini sejalan dengan standar efisiensi yang ditawarkan kompetitor di segmen kendaraan energi baru. BYD menekankan bahwa hasil aktual bisa bervariasi tergantung kondisi jalan, beban kendaraan, dan kebiasaan mengemudi.
Untuk konteks perbandingan, beberapa model hibrida dari pabrikan Jepang di kelas yang sama biasanya mencatat konsumsi antara 30-45 km/liter dalam kondisi campuran. Jika terbukti akurat, angka 65 km/liter akan menempatkan BYD DM sebagai salah satu kendaraan paling efisien di pasar Indonesia saat ini.
Teknologi Dual Mode BYD hadir di saat pasar kendaraan energi baru Indonesia masih didominasi mobil listrik murni (BEV) dan hibrida konvensional. Dengan menawarkan fleksibilitas bahan bakar dan listrik, BYD menyasar konsumen yang masih ragu terhadap infrastruktur pengisian daya. Langkah ini bisa mempercepat penetrasi kendaraan elektrifikasi ke segmen yang lebih luas, termasuk pengguna di luar Pulau Jawa.
BYD belum mengumumkan model spesifik yang akan mengusung teknologi DM di Indonesia. Namun, peluncuran ini menjadi sinyal kuat bahwa pabrikan asal China tersebut serius membangun ekosistem kendaraan energi baru yang lengkap, tidak hanya mengandalkan mobil listrik murni. Keputusan soal harga dan varian akan menentukan seberapa besar dampak teknologi ini terhadap peta persaingan otomotif nasional.