Setor Rp1,73 Triliun ke Negara, Pelindo Terminal Petikemas Buktikan Diri sebagai Jangkar Fiskal

Penulis: Lendra Saputra  •  Selasa, 02 Juni 2026 | 14:23:23 WIB
Pelindo Terminal Petikemas menyetor Rp1,73 triliun ke negara sebagai kontribusi fiskal tahun 2026.

KALIMANTAN UTARA — Dari total setoran Rp1,73 triliun, porsi terbesar berasal dari pajak senilai Rp1,45 triliun. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi penyumbang tertinggi dengan angka Rp485,45 miliar. Disusul Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/29 sebesar Rp360,13 miliar dan PPh Pasal 21 yang mencapai Rp267,35 miliar.

Selain pajak, SPTP juga menyetor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) senilai Rp55,59 miliar dan pembayaran konsesi sebesar Rp224,5 miliar. Corporate Secretary SPTP Widyaswendra menegaskan, realisasi ini adalah wujud kepatuhan regulasi sekaligus komitmen perusahaan mendukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Dukungan tersebut menjadi wujud nyata komitmen perusahaan sebagai bagian dari Pelindo Group dalam mendukung pembangunan nasional melalui APBN,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).

Efisiensi Logistik Jadi Kunci Tekan Biaya dan Dongkrak Ekspor

Widyaswendra menambahkan, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan, sektor kepelabuhanan tetap menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi. Efisiensi di terminal petikemas diyakini mampu menekan biaya logistik nasional, mempercepat distribusi barang, dan meningkatkan daya saing ekspor.

Optimisme ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat sektor transportasi dan pergudangan nasional tumbuh 8,98% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Triwulan IV/2025. Sektor ini menjadi salah satu motor penggerak ekonomi utama.

Tantangan Konektivitas: Disparitas Harga di Indonesia Timur Masih Menganga

Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Anton Agus Setyawan menilai bisnis logistik domestik memiliki ruang tumbuh besar. Namun, ia menyoroti optimalisasi pelabuhan dan konsep tol laut yang masih perlu dipacu, khususnya untuk mereduksi disparitas harga di kawasan Indonesia Timur seperti Papua.

“Bagaimana logistik supply chain di Papua itu bisa lebih baik sehingga perbedaan harga beberapa produk komoditas bisa dikurangi,” tutur Anton, Jumat (22/5/2026).

Modernisasi Alat Bongkar Muat: Tambah QCC dan RTG di Berbagai Terminal

Untuk mengejar target efisiensi, SPTP gencar melakukan modernisasi infrastruktur sepanjang 2025. Langkah ini mencakup penambahan 4 unit Quay Container Crane (QCC) di TPK Semarang, 1 unit QCC di IPCTPK Panjang, serta 14 unit Rubber Tyred Gantry (RTG) dan 4 unit QCC di Terminal Petikemas Surabaya.

Penguatan alat juga menyasar terminal regional seperti TPK Kendari, TPK Banjarmasin, TPK Nilam, TPK Belawan, TPK Perawang, dan Terminal Kijing. Pakar Maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Raja Oloan Saut Gurning menilai ekspansi ini merupakan respons logis atas lonjakan kunjungan kapal dan volume kontainer.

Sebagai contoh, Terminal Kijing mencatatkan lonjakan kunjungan kapal hingga 15% (741 calls) pada 2025, dipicu oleh arus kargo curah kering dan cair dari hilirisasi kelapa sawit serta alumina. Sementara itu, TPK Banjarmasin menunjukkan resiliensi tinggi berkat konsumsi domestik dan industri hinterland pertambangan.

Namun, Saut mengingatkan bahwa produktivitas tidak hanya bergantung pada jumlah alat. “Efisiensi terminal peti kemas juga ditentukan oleh kesiapan infrastruktur pendukung seperti dermaga, lapangan penumpukan, gudang, hingga gate. Indikator utamanya adalah kemampuan menekan turn around time kapal,” pungkasnya.

Reporter: Lendra Saputra
Sumber: stabilitas.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top