TARAKAN — Sebanyak tujuh unit pesawat tempur latih jenis T-50i Golden Eagle milik Jupiter Aerobatic Team (JAT) TNI Angkatan Udara mendarat mulus di landasan pacu Bandara Internasional Juwata, Tarakan, Senin lalu. Pesawat-pesawat dengan corak khas merah-putih itu transit sebelum melanjutkan penerbangan menuju Brunei Darussalam untuk misi pertunjukan udara internasional.
Proses pendaratan berlangsung secara bergiliran. Satu per satu pesawat menyentuh landasan dengan formasi rapi, disaksikan oleh Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Tarakan beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Tarakan yang sudah bersiap di area apron bandara sejak pagi. Suara deru mesin jet menggema di sekitar bandara, menyedot perhatian warga yang kebetulan melintas di kawasan tersebut.
Keberangkatan JAT ke Brunei Darussalam bukan sekadar pameran statis. Tim aerobatik andalan TNI AU ini dijadwalkan melakukan pertunjukan manuver udara di langit Kerajaan Brunei. Aksi mereka menjadi bagian dari diplomasi militer dan promosi kebanggaan dirgantara Indonesia di kancah regional. Komandan Lanud Tarakan menyebut persinggahan di Tarakan merupakan bagian dari prosedur operasional penerbangan jarak jauh yang membutuhkan titik istirahat dan pengisian bahan bakar.
Bagi masyarakat Kalimantan Utara, pemandangan tujuh pesawat tempur TNI AU bersamaan di satu bandara tergolong langka. Biasanya, pesawat tempur melintas di atas wilayah ini hanya dalam formasi kecil atau latihan rutin. Kehadiran JAT kali ini memberikan kesempatan bagi warga untuk melihat langsung kecanggihan pesawat T-50i Golden Eagle yang merupakan tulang punggung skuadron aerobatik Indonesia. Beberapa personel TNI AU yang turun dari pesawat sempat berinteraksi singkat dengan warga yang penasaran.
Setelah menyelesaikan proses pengisian bahan bakar dan pemeriksaan teknis, tujuh pesawat JAT lepas landas kembali dari Tarakan menuju tujuan akhir di Brunei Darussalam. Seluruh rangkaian penerbangan berjalan lancar tanpa kendala teknis berarti. Pihak Lanud Tarakan memastikan bahwa koordinasi dengan otoritas penerbangan sipil dan militer di kedua negara telah dilakukan sejak jauh-jauh hari untuk menjamin keamanan dan kelancaran misi.