TARAKAN — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Tarakan menerapkan pemeriksaan organ hati secara ketat terhadap seluruh hewan kurban yang dipotong di Kota Tarakan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan daging yang dibagikan kepada masyarakat aman dari cacing hati (fasciolosis). Pemeriksaan menyasar organ hati sapi dan kerbau yang menjadi indikator utama kesehatan hewan kurban.
Petugas dari DKPP Tarakan turun langsung ke sejumlah tempat pemotongan hewan kurban di kota ini. Mereka memeriksa organ hati secara visual dan meraba teksturnya untuk mendeteksi keberadaan cacing hati. Jika ditemukan tanda-tanda infeksi, organ hati tersebut langsung disisihkan dan tidak boleh dikonsumsi.
“Pemeriksaan hati ini wajib dilakukan pada setiap hewan kurban. Tujuannya satu, memastikan daging yang diterima masyarakat benar-benar sehat dan layak konsumsi,” ujar Kepala DKPP Tarakan, drh. Muhammad Yusuf, di sela-sela pemantauan di lokasi pemotongan, Senin lalu.
Cacing hati atau Fasciola gigantica adalah parasit yang menyerang organ hati hewan ternak, terutama sapi dan kerbau. Infeksi ini biasanya tidak terlihat dari kondisi luar hewan, sehingga pemeriksaan organ dalam menjadi krusial. Daging dari hewan yang terinfeksi cacing hati sebenarnya masih bisa dimakan, tetapi organ hatinya harus dimusnahkan.
Masyarakat diimbau tidak panik jika menemukan hati hewan kurban yang tidak lolos pemeriksaan. “Itu justru menandakan petugas kami bekerja. Hati yang terinfeksi tidak akan dibagikan. Dagingnya sendiri tetap aman,” tambah Yusuf.
DKPP Tarakan menyiagakan tim dokter hewan dan paramedis veteriner di setiap tempat pemotongan hewan kurban selama hari raya. Mereka tidak hanya memeriksa organ hati, tetapi juga memantau kondisi fisik hewan sebelum dipotong. Hewan yang menunjukkan gejala sakit atau kelelahan akan diperiksa lebih lanjut.
Selain pemeriksaan organ, DKPP juga mengedukasi panitia kurban tentang cara penanganan daging yang higienis. Mulai dari proses pemotongan, penanganan jeroan, hingga pendistribusian daging ke warga. Edukasi ini dianggap penting untuk memutus rantai kontaminasi bakteri seperti E. coli dan Salmonella.
Masyarakat penerima daging kurban diminta untuk memasak daging hingga matang sempurna. Proses memasak dengan suhu tinggi akan membunuh parasit dan bakteri yang mungkin masih tersisa. Warga juga disarankan untuk menanyakan kepada panitia kurban apakah daging yang diterima sudah melalui pemeriksaan petugas.
DKPP Tarakan memastikan bahwa seluruh daging kurban yang lolos pemeriksaan telah memenuhi standar kesehatan hewan. “Kami ingin Idul Adha tahun ini benar-benar menjadi momen berbagi yang sehat dan berkah,” pungkas Yusuf.