KUTAI KARTANEGARA — Sembilan desa yang diundang mencakup Muara Pantuan, Sepatin, Tani Baru, Tanjung Berukang, Kutai Lama, Handil Terusan, Sidomulyo, Anggana, dan Sungai Mariam. Selain perangkat desa, hadir pula perwakilan kelompok masyarakat yang sehari-hari bergerak di perairan dan kawasan hutan sekitar Delta Mahakam.
Head of Communication Relations & CID PHM Achmad Krisna Hadiyanto menyebut sosialisasi ini sebagai langkah strategis memastikan dukungan pemangku kepentingan terhadap keamanan operasi hulu migas. Menurutnya, keberlanjutan produksi PHM berkontribusi langsung pada kemampuan negara menyediakan energi.
"Di tengah dinamika geopolitik dunia, keberlanjutan produksi migas PHM memberikan kontribusi nyata terhadap kemampuan negara kita untuk menyediakan energi yang diperlukan bagi kegiatan ekonomi masyarakat dan pembangunan Indonesia," ujar Achmad.
Narasumber dari PHM dan Tim POMA memberi edukasi soal keselamatan pelayaran di Delta Mahakam, aktivitas penangkapan ikan, kesiapsiagaan karhutla, serta keselamatan di sekitar jaringan pipa minyak dan gas. Nelayan diminta tidak memasuki zona terlarang di sekitar platform dan jalur pipa.
Warga juga diberi pemahaman soal penggunaan jangkar sesuai prosedur. Jangkar yang tidak tepat berpotensi merusak jaringan pipa, mengganggu operasional perusahaan, hingga menimbulkan risiko keselamatan dan dampak lingkungan.
Penata Keselamatan dan Keamanan Pelayaran KSOP Samarinda, Kornelius Borus, memaparkan kewaspadaan pada titik river crossing pipa migas saat air surut. Dia juga menyoroti aktivitas manuver kapal di wilayah daerah terbatas pipeline river crossing RC-14.
Sementara DKP Provinsi Kalimantan Timur menjelaskan zona perairan dan ketentuan aktivitas perikanan di kawasan Delta Mahakam. Kepala Seksi Pencegahan BPBD Kutai Kartanegara H. Mohd. Farid memberikan edukasi teknik dasar pengendalian karhutla dan pentingnya keselamatan diri bagi relawan.
Sesi diskusi membahas kondisi lapangan yang dihadapi warga, mulai dari aktivitas nelayan di sekitar wilayah operasi, lintasan alat berat pada jalur pipa, kebutuhan sarana penanganan karhutla, hingga pertanyaan soal indikasi bercak minyak di perairan.
Camat Anggana Rokip mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Dia berharap komunikasi antara masyarakat dan perusahaan terus diperkuat agar persoalan di lapangan bisa dievaluasi bersama.
"Kami berharap jalinan komunikasi dan penyampaian aspirasi kepada perusahaan dapat berjalan dengan baik dan saling mendukung, sehingga persoalan yang terjadi di lapangan dapat dievaluasi bersama," ujar Rokip.
Achmad menutup dengan menegaskan pentingnya kontribusi seluruh pemangku kepentingan menjaga keamanan fasilitas dan operasi hulu migas sebagai obvitnas. Menurutnya, hal itu menentukan ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia.
"Kami meyakini pentingnya kontribusi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga keamanan dan keselamatan fasilitas dan operasi hulu migas sebagai obvitnas demi ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia," pungkas Achmad.