1666: Amsterdam Hapus Pemakaian AI Usai Dikritik Gamer, Dev Buka Suara

Penulis: Obi Permana  •  Selasa, 01 September 2026 | 15:41:31 WIB
Kreator 1666: Amsterdam, Patrice Désilets, menyatakan seluruh penggunaan AI dalam proses produksi game telah dihapus.

KALIMANTAN UTARA — Patrice Désilets, kreator di balik franchise Assassin's Creed, akhirnya buka suara setelah judul terbarunya, 1666: Amsterdam, dikritik lantaran diduga memakai generative AI. Lewat wawancara dengan GamesRadar+, ia mengakui bahwa AI sempat digunakan—tapi hanya pada tahap konsep dan praproduksi. Seluruh penggunaannya telah dihapus, dan ia berkomitmen untuk tidak lagi menggunakannya ke depan.

Kontroversi ini mencuat setelah game tersebut tayang perdana lewat trailer di Summer Game Fest 2026. Désilets tidak merinci bagian mana yang memicu kecurigaan, namun ia menegaskan bahwa AI tidak akan menjadi bagian dari proses produksi final. Baginya, kritik ini jadi pelajaran penting soal ekspektasi komunitas terhadap kreativitas manual.

Kritik Gamer yang Mengubah Arah Pengembangan

Dalam wawancaranya, Désilets mengaku menerima kritik publik dengan lapang dada. Menurutnya, publikasi awal yang menyebut keterlibatan AI cukup untuk memicu reaksi keras dari para penggemar yang sudah menunggu proyek ini selama bertahun-tahun.

Keputusan menghilangkan AI dari alur produksi diambil setelah ia mempertimbangkan dampaknya terhadap kualitas visual dan naratif game. Langkah ini dinilai penting karena 1666: Amsterdam mengangkat setting sejarah Eropa abad ke-17 yang menuntut detail arsitektur dan atmosfer yang autentik, bukan hasil generasi otomatis.

Premis dan Gameplay: Noa, Aaron, dan Kucing Hitam

Berlatar Eropa tahun 1666, game ini mengikuti Noa Brookyln—dijuluki The Collector—dalam misinya membasmi The Originals, iblis yang menyamar sebagai manusia. Noa tidak sendirian. Aaron, manusia dari tahun 1999, dipanggil lintas waktu dan hadir dalam wujud kucing hitam.

Pemain bisa bertukar peran antara Noa dan Aaron, masing-masing dengan perspektif berbeda di era yang sama. Aaron membawa pengetahuan modern ke masa lalu, sementara Noa mengandalkan naluri bertahan hidup di tengah intrik Eropa kelam. Kombinasi dua zaman ini menjadi daya tarik utama yang membedakan game ini dari proyek Désilets sebelumnya.

Early Access Sudah Dibuka, Rilis Penuh Masih Misteri

Meski belum ada jadwal rilis resmi, 1666: Amsterdam sudah memasuki Early Access di PC via Steam sejak pekan ini. Gamer Indonesia yang penasaran dengan mekanik dual-character bisa langsung mencicipi versi awalnya, namun perlu siap menghadapi kemungkinan perubahan besar sebelum peluncuran final.

Dengan langkah ini, Désilets menunjukkan bahwa kritik pemain masih punya pengaruh nyata dalam proses kreatif. Di tengah maraknya adopsi AI di industri game, keputusan ini bisa menjadi pembeda bagi 1666: Amsterdam—dan mungkin juga preseden untuk developer lain yang sedang bergulat dengan dilema serupa.

Reporter: Obi Permana
Sumber: gamebrott.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top