KALIMANTAN UTARA — 4 Penny Coffins bukan sekadar game detektif biasa. Dikembangkan oleh Other Ocean Interactive, game ini menghadirkan pengalaman investigasi sosial di mana satu dari delapan pemain adalah pembunuh berantai yang menyamar. Setting-nya mengambil tempat di distrik Whitechapel, London tahun 1888, era kelam yang identik dengan sosok Jack the Ripper.
Dalam mode multiplayer "Ripper", tujuh pemain berperan sebagai penyidik dengan kemampuan forensik berbeda, sementara satu pemain lainnya diam-diam menjadi iblis yang mengincar korban berikutnya. Yang menarik, saat terdesak, si pembunuh bisa berubah menjadi monster setinggi 10 kaki yang mampu merobek pemain lain menjadi dua.
Gameplay: Deduksi Forensik Versus Gangguan Kekacauan
Jared Petty, Marketing Manager Other Ocean Interactive, menjelaskan bahwa mode multiplayer game ini berbasis kelas. Setiap pemain memiliki keahlian unik seperti analisis sidik jari, analisis percikan darah, fotografi, hingga mewawancarai saksi. Tugas mereka adalah mengumpulkan bukti sebelum Ripper melancarkan aksi pembunuhan berikutnya.
"Tujuh dari kalian menggunakan analisis sidik jari dan percikan darah, memotret, mewawancarai saksi, dan melakukan segala macam pekerjaan detektif. Satu dari kalian mengacaukan semua itu dan kadang-kadang berubah menjadi iblis raksasa setinggi 10 kaki yang merobek orang menjadi dua," ujar Petty kepada IGN.
Filosofi desain game ini menarik: humor dan horor sengaja dipadukan. Petty mengutip percakapannya dengan Tim Schafer, pendiri Double Fine Productions, yang berpendapat bahwa humor dalam video game adalah hal paling mudah karena medium ini dibangun di atas karakter kuning kecil yang memakan titik dan dikejar hantu.
Mode Magistrate: Tantangan Solo ala Sherlock Holmes
Bagi pemain yang lebih suka bermain sendiri, 4 Penny Coffins menyediakan mode "Magistrate". Mode ini menghadirkan pengalaman yang jauh lebih mirip dengan kisah Sherlock Holmes. Pemain harus menginterogasi sekelompok tersangka yang ditahan di penjara, mengetahui bahwa salah satu dari mereka adalah Ripper, namun tanpa petunjuk siapa pelakunya.
Batasan waktu menjadi tantangan utama di mode ini. Pemain harus menggunakan semua alat dari berbagai kelas untuk memecahkan misteri sebelum waktu habis. Jika salah menuduh, pemain akan menerima poin demerit. Tersedia tiga kesempatan sebelum game berakhir dengan kekalahan. Semua deduksi dan petunjuk harus dibawa kembali untuk "menggantung" tersangka yang benar.
Gaya Visual: Foto Monokrom dengan Gore Stylized
Secara visual, 4 Penny Coffins tampil beda dari game investigasi lain. Mayoritas game ini disajikan dalam hitam-putih, kecuali saat kekerasan terjadi—di mana warna merah muncul mencolok. Pendekatan ini terinspirasi dari novel grafis From Hell karya Alan Moore.
Tim pengembang ingin menciptakan abstraksi yang menggambarkan era tersebut. "Bagaimana tampilan koran dengan ukiran kayu yang dihidupkan? Bagaimana tampilan foto bergerak yang berbutir dari periode itu?" kata Petty, menirukan pertanyaan yang diajukan tim studio. Chris Navarro, direktur studio, menyimpulkannya dengan sederhana: "Itu harus terlihat keren."
Kapan Rilis dan Platform?
Hingga saat ini, Other Ocean Interactive belum mengumumkan tanggal rilis pasti maupun platform yang didukung. Trailer gameplay perdana dijadwalkan tayang selama ajang gamescom 2026 melalui kanal IGN. Petty menegaskan bahwa game ini dirancang untuk dinikmati baik bersama teman maupun solo, dan tidak mengharuskan pemainnya menjadi penggemar genre horor.
"Ini benar-benar latihan mental yang santai, hampir seperti teka-teki. Jika kamu suka game puzzle, kamu akan menyukainya," tutup Petty. Bagi komunitas gamer Indonesia yang gemar game sosial deduksi seperti Among Us atau Town of Salem, 4 Penny Coffins layak masuk daftar pantauan.