TARAKAN — Partai NasDem Kalimantan Utara (Kaltara) memulai konsolidasi awal untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 dengan target ambisius: memiliki fraksi sendiri di DPRD Provinsi hingga kabupaten/kota. Instruksi ini disampaikan langsung Wakil Ketua Umum DPP Partai NasDem, Saan Mustopa, di hadapan ratusan kader dalam konsolidasi di Hotel Tarakan Plaza, Jumat (28/8/2026).
Saat ini, posisi NasDem di DPRD Kaltara masih berada dalam fraksi gabungan. Meski jumlah kursi dinilai masih terjaga, Saan menilai model fraksi gabungan menyimpan keterbatasan ruang gerak yang signifikan bagi perjuangan partai di parlemen.
Saan Mustopa merinci empat alasan mendasar mengapa fraksi mandiri menjadi target yang tidak bisa ditawar pada Pemilu 2029 mendatang. Keempatnya berpusat pada kebutuhan akan independensi dan kecepatan respons politik.
Pertama, fraksi sendiri menghilangkan barikade birokrasi antar-partai di parlemen lokal. Dengan begitu, setiap pandangan umum fraksi murni merepresentasikan visi dasar NasDem tanpa perlu kompromi lintas partai yang panjang.
Kedua, fungsi pengawasan DPR terhadap kebijakan eksekutif Kaltara, khususnya di sektor infrastruktur dan ekonomi daerah, bisa berjalan kritis. Pengawasan tidak lagi tersandera oleh kepentingan koalisi di dalam fraksi gabungan.
Ketiga, posisi tawar partai dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) dan penganggaran APBD di seluruh kabupaten/kota menjadi lebih kuat. Keempat, fraksi utuh menjadi modal membangun basis dukungan lokal sebagai bahan bakar merebut kembali satu kursi DPR RI Dapil Kaltara yang sempat terlepas pada Pemilu 2024.
Penekanan paling tajam dari Saan terletak pada independensi penentuan arah kebijakan. Ia menilai, berada dalam fraksi gabungan kerap memaksa partai melalui proses negosiasi panjang dan melelahkan hanya untuk menentukan satu sikap politik.
“Kalau kita punya fraksi sendiri, NasDem bisa langsung mengambil keputusan penuh. Kita menentukan arah dan langkah politik secara mandiri tanpa harus menunggu atau tergantung pada dinamika partai lain,” ujar Saan di hadapan jajaran pengurus DPW dan DPD se-Kaltara.
Kemandirian ini dinilai krusial mengingat dinamika pembangunan di Kaltara yang bergerak cepat. Percepatan proyek strategis, pengawasan anggaran publik, hingga pengawalan aspirasi masyarakat di tingkat tapak membutuhkan respons politik yang presisi—hal yang sulit dicapai jika harus melewati kompromi lintas partai dalam satu fraksi.
Mewujudkan lompatan dari fraksi gabungan menuju fraksi mandiri bukan perkara mudah. Namun, Saan mengingatkan kader agar tidak berkecil hati menghadapi kompetisi politik yang kian ketat. Ia meminta seluruh struktur partai, dari pengurus wilayah hingga ranting di desa-desa, mengadopsi mentalitas petarung.
“Sulit itu bukan berarti mustahil. Kata sulit adalah tanda bahwa kita harus bekerja lebih keras, memiliki daya juang yang lebih kuat, dan berkorban lebih banyak dibanding sebelumnya,” tegas Saan.
Ia menutup pengarahannya dengan instruksi tegas agar seluruh kader segera memanaskan mesin partai, mengonsolidasikan basis massa, dan menjadikan target fraksi mandiri sebagai komitmen bersama demi membawa perubahan nyata bagi masyarakat Kaltara.