TARAKAN — Rencana pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di Kota Tarakan memasuki babak administrasi. Pemerintah Kota Tarakan memastikan lahan calon kampus seluas 20 hektare di Kelurahan Mamburungan, Kecamatan Tarakan Timur, tengah diproses hibahnya ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah (Kabid Dikdasmen) Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Edy Pujianto, menyampaikan status kepemilikan lahan tersebut sudah bersih. Saat ini tahapan yang berjalan adalah pengurusan administrasi dan proses di Badan Pertanahan Nasional (BPN).
"Lahannya sudah clear. Sekarang tinggal proses hibah kepada kementerian. Setelah itu, pembangunan menjadi kewenangan pemerintah pusat," ujarnya.
Luas lahan 20 hektare dipilih bukan tanpa alasan. Konsep SNT di Tarakan dirancang sebagai kawasan pendidikan terpadu yang tidak hanya berisi ruang kelas, tetapi juga fasilitas penunjang pengembangan siswa secara menyeluruh.
Beberapa fasilitas yang direncanakan antara lain laboratorium sains dan teknologi, ruang seni dan olahraga, hingga area pengembangan kewirausahaan. Uniknya, kawasan ini juga akan dilengkapi kebun pertanian, peternakan, kolam ikan, dan kolam renang.
"Konsepnya memang untuk mendukung pengembangan potensi siswa secara menyeluruh, baik akademik maupun nonakademik. Karena itu lahannya harus cukup luas," ungkap Edy.
Kota Tarakan tercatat sebagai salah satu dari 17 daerah di Indonesia yang ditetapkan sebagai lokasi pembangunan SNT pada tahap awal. Namun, pembangunan kampus permanen belum bisa dieksekusi sebelum proses hibah lahan dari pemerintah kota ke pemerintah pusat tuntas.
Sambil menunggu proses tersebut rampung, kegiatan belajar mengajar SNT Tarakan tetap berjalan. Siswa yang diterima pada tahun ajaran pertama akan menempati lokasi transisi dengan memanfaatkan sebagian fasilitas di kompleks SMP Negeri 14 Tarakan.
Proses penerimaan peserta didik baru untuk SNT Tarakan saat ini telah memasuki tahapan seleksi. Peserta didik yang dinyatakan lolos nantinya akan mengikuti pembelajaran di sekolah transisi tersebut terlebih dahulu.
Skema ini memungkinkan operasional SNT berjalan lebih awal sembari menunggu pembangunan kampus permanen di Mamburungan selesai. Setelah pembangunan rampung, seluruh kegiatan pendidikan akan dipindahkan ke kawasan baru yang dirancang sebagai pusat pendidikan terpadu tersebut.
Tantangan ke depan tidak hanya memastikan proses hibah lahan tuntas, tetapi juga memastikan pembangunan fasilitas yang direncanakan dapat terealisasi sesuai konsep awal SNT. (*)