FAO: Lahan Pertanian Gaza yang Layak Garap Tinggal 448 Hektare, Produksi Pangan Lokal di Ambang Kolaps

Penulis: Panji Pratama  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 09:21:31 WIB
Petani memeriksa lahan pertanian kering di Jalur Gaza, yang luas lahan produktifnya menyusut menjadi 448 hektare menurut analisis citra satelit FAO.

KALIMANTAN UTARA — Bayangkan lahan pertanian yang tadinya menghidupi lebih dari 560.000 orang, kini hanya menyisakan sepetak kecil tanah yang bisa ditanami. Itulah realita pahit yang dihadapi para petani di Jalur Gaza. Analisis citra satelit terbaru FAO menunjukkan luas lahan produktif yang tersisa menyusut drastis, dari 601 hektare menjadi 448 hektare hanya dalam hitungan bulan.

Rein Paulsen, Direktur Kantor Kedaruratan dan Ketahanan FAO, menegaskan situasi ini adalah alarm darurat. "Tanpa tindakan mendesak untuk memulihkan akses yang aman dan memberikan dukungan yang dibutuhkan para petani, peluang untuk memulihkan produksi pangan lokal akan terus berkurang," ujarnya, seperti dikutip dari laporan AFP pada Selasa (19/8).

Garis Kuning: Pembatas yang Memangkas Lahan Produktif

Penyebab utama penyusutan lahan ini bukan hanya kehancuran fisik akibat perang. FAO menemukan perluasan "Garis Kuning" (Yellow Line) ke arah barat—zona yang memisahkan area gencatan senjata dari wilayah kuasaan militer Israel—menjadi faktor kunci yang memangkas akses petani ke ladang mereka.

Data FAO mengungkapkan, selain 448 hektare yang masih layak garap, ada sekitar 3.643 hektare lahan lain yang sebenarnya bisa diakses. Namun, kondisi tanahnya terlalu rusak parah untuk ditanami tanpa proses rehabilitasi besar-besaran terlebih dahulu. Artinya, potensi pemulihan pertanian Gaza masih terhambat oleh dua masalah besar: akses terbatas dan kerusakan lahan yang ekstensif.

Peternak dan Rumah Kaca Ikut Terpuruk

Dampak blokade tidak hanya dirasakan petani tanaman pangan. Para peternak di Gaza juga kesulitan mendapatkan pakan ternak dan perlengkapan veteriner karena pembatasan impor barang-barang pertanian yang ketat. Akibatnya, sektor peternakan ikut lumpuh dan tidak bisa menopang kebutuhan protein masyarakat.

Infrastruktur pertanian modern pun ambruk. Luas rumah kaca yang berfungsi turun 17,3 persen sejak Oktober 2025, menyisakan hanya 224 hektare yang dapat diakses dan tidak rusak. Padahal, rumah kaca adalah salah satu cara paling efektif untuk memaksimalkan hasil panen di lahan yang terbatas seperti Gaza.

Dari Penopang Ekonomi Menuju Ketergantungan Pangan

Sebelum konflik terbaru pecah pada 7 Oktober 2023, sektor pertanian adalah tulang punggung ekonomi Gaza. FAO mencatat sektor ini menyumbang sekitar 10 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) wilayah tersebut. Namun, setelah lebih dari 73.000 orang tewas menurut kementerian kesehatan setempat, dan pasukan Israel menguasai hampir 70 persen wilayah, sektor ini hancur lebur.

Gencatan senjata yang mulai berlaku Oktober 2025 memang menghentikan pertempuran skala besar, tetapi negosiasi untuk perdamaian permanen masih buntu. Selama akses lahan masih dibatasi dan impor alat produksi dilarang, mustahil bagi Gaza untuk kembali swasembada pangan. Alih-alih menjadi lumbung pangan, Gaza kini semakin bergantung pada bantuan internasional untuk sekadar bertahan hidup.

Reporter: Panji Pratama
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top