Tradisi Pernikahan Adat Kalimantan Utara yang Masih Dilestarikan, dari Prosesi Lamaran hingga Resepsi

Penulis: Mirza Fachri  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 22:03:01 WIB
Prosesi merisik dilakukan secara diam-diam oleh tetua adat untuk memastikan status calon mempelai wanita di Kalimantan Utara.

Di perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di Kalimantan Utara, hiruk pikuk pembangunan ibu kota baru tak lantas mengikis tradisi pernikahan adat yang sudah berakar berabad-abad. Warga lokal, terutama dari etnis Dayak (Kenyah, Kayan, Lun Bawang) dan Melayu pesisir, masih mempertahankan ritual pernikahan yang membedakan mereka dari daerah lain. Sebagai orang yang lahir dan besar di Tarakan, saya menyaksikan sendiri bagaimana prosesi ini bertahan di tengah gempuran modernisasi—bukan sekadar seremonial, melainkan cerminan identitas.

Artikel ini akan memandu Anda, baik warga lokal yang hendak menikah maupun perantau yang penasaran, melewati lima tahapan inti pernikahan adat Kaltara yang masih dipraktikkan hingga kini.

1. Merisik dan Mbesek: Tahap Awal yang Penuh Diplomasi

Prosesi dimulai dengan merisik atau penyelidikan informal dari pihak keluarga calon mempelai pria ke pihak wanita. Berbeda dengan lamaran yang sifatnya resmi, merisik dilakukan diam-diam untuk memastikan status gadis yang dituju belum ada yang punya. Di komunitas Dayak Kenyah di Kabupaten Malinau, tahap ini kerap melibatkan tetua adat yang bertindak sebagai “mata-mata” keluarga.

Setelah dirasa cocok, barulah diadakan mbesek (istilah Melayu Tarakan) atau ngerujak di beberapa daerah—yaitu lamaran resmi. Pihak pria membawa sirih, pinang, dan seserahan berupa kain atau perhiasan. Di sini, besaran mahar atau belis mulai dirundingkan. Saya pernah mendengar dari seorang ketua RT di Jalan Yos Sudarso, Tarakan, bahwa nominal belis di Kaltara sangat bervariasi, tergantung strata sosial keluarga. Tidak ada angka pasti, jadi sebaiknya tanyakan langsung ke tetua adat setempat.

2. Ngerampas dan Makan Sirih: Ritual Pengikat Janji

Setelah lamaran diterima, tibalah acara ngerampas—istilah lokal untuk pertunangan. Di suku Dayak Kayan, ritual ini ditandai dengan upacara makan sirih bersama. Kedua calon mempelai duduk bersila di atas tikar pandan, saling menyuapi sirih yang sudah dilumuri kapur. Prosesi ini bukan sekadar tradisi, melainkan simbol penerimaan dan pengikat janji di hadapan tetua adat.

Yang menarik, di beberapa kampung di Nunukan, ngerampas kerap digabung dengan pemberian tengkorak—bukan tengkorak manusia, melainkan hiasan kepala dari manik-manik khas Dayak. Saya sempat bertanya kepada seorang perias pengantin di Tanjung Selor, dan ia menjelaskan bahwa tengkorak ini hanya dipakai oleh keluarga bangsawan adat. Jika Anda diundang ke acara ini, jangan heran melihat prosesi yang bisa berlangsung hingga 4-5 jam karena diisi dengan petuah dan tarian penyambutan.

3. Malam Bepapai: Momen Paling Sakral dan Penuh Air Mata

Malam sebelum akad nikah atau pemberkatan, diadakan bepapai (dalam bahasa Bulungan) atau nyonggan (Dayak Lun Bawang). Ini adalah momen di mana kedua mempelai dihias dengan pupur (bedak kuning) oleh para tetua perempuan. Di Krayan, perbatasan Malaysia, tradisi ini disebut nugal—di mana keluarga mempelai wanita menangis bersama sebagai simbol melepas kepergian anak gadis.

Saya ingat betul saat menghadiri bepapai di Desa Salimbatu, Bulungan. Suasana haru menyelimuti ruangan. Para ibu-ibu menyanyikan lanting—syair pantun berbahasa Tidung—sambil mengoleskan bedak ke wajah pengantin. Prosesi ini bukan sekadar riasan, melainkan doa agar pengantin mendapatkan keselamatan dan keturunan. Jika Anda kebetulan diundang, jangan lupa membawa amplop atau sirih pinang sebagai tanda penghormatan.

4. Akad Nikah Adat: Perpaduan Syariat dan Budaya Lokal

Untuk masyarakat Muslim di Kaltara—mayoritas Melayu dan sebagian Dayak yang sudah memeluk Islam—akad nikah tetap mengikuti syariat Islam. Namun, ada sentuhan lokal yang khas: penggunaan dulang (nampan kuningan) untuk membawa mas kawin, dan tepung tawar setelah ijab kabul. Di Tarakan, saya sering melihat prosesi ini di Masjid Agung atau di rumah mempelai wanita di kawasan Jalan Mulawarman.

Sementara untuk masyarakat Dayak Kristen (seperti di Kecamatan Kayan Hulu), akad nikah dilakukan di gereja dengan tambahan ritual ngayau—tarian perang simbolis yang menandakan bahwa mempelai pria siap melindungi istrinya. Tarian ini biasanya dibawakan oleh para pemuda desa dengan pedang dan perisai. Tidak ada biaya khusus untuk menyaksikan, cukup izin kepada kepala adat setempat.

5. Pesta Resepsi dan Tradisi Makan Bajamba

Puncak acara adalah resepsi yang diisi dengan makan bajamba—tradisi makan bersama dari satu dulang besar. Di Kabupaten Bulungan, tradisi ini disebut makan bersama atau selamatan. Para tamu duduk bersila di lantai, mengambil nasi dan lauk dari dulang yang sama. Menu khas yang wajib ada: gulai ikan patin, sambal gami, dan pais (pepes ikan).

Di pesta adat Dayak Kenyah di Malinau, acara ini dimeriahkan dengan tarian kancet ledo yang dibawakan oleh para gadis desa. Jika Anda datang sebagai tamu, biasanya ada sesi begalan—pemberian oleh-oleh berupa kue tradisional seperti lemang atau wajik untuk dibawa pulang. Satu hal yang perlu diingat: jangan menolak makanan yang disajikan, karena dianggap tidak sopan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah adat pernikahan di Kalimantan Utara sama dengan Kalimantan Timur?
Tidak sepenuhnya. Meski berbagi akar budaya Dayak dan Melayu, Kaltara punya keunikan seperti tradisi bepapai dan makan bajamba yang lebih dominan di wilayah Bulungan dan Tarakan. Di Kaltim, pengaruh Kutai lebih kuat.

Berapa lama prosesi pernikahan adat Kaltara biasanya berlangsung?
Bisa 2-3 hari, tergantung kesepakatan keluarga. Mulai dari merisik hingga resepsi, ada jeda beberapa minggu atau bulan. Untuk satu hari puncak acara, biasanya dari pagi hingga malam.

Apakah wisatawan bisa ikut serta dalam prosesi adat ini?
Bisa, asal diundang atau meminta izin kepada kepala adat. Jangan datang tanpa undangan. Biasanya, wisatawan yang diundang akan diberi tempat khusus dan diperbolehkan mendokumentasikan acara.

Apa saja pantangan yang harus diketahui saat menghadiri pernikahan adat Kaltara?
Jangan memakai pakaian berwarna hitam (dianggap lambang duka di beberapa suku), jangan duduk di tempat yang sudah disediakan untuk tetua adat, dan jangan meludah sembarangan di area upacara.

Bagaimana cara mengetahui jadwal pernikahan adat di Kalimantan Utara?
Biasanya diumumkan melalui pengeras suara masjid atau gereja, serta grup WhatsApp warga. Anda juga bisa bertanya ke kantor kelurahan setempat atau tokoh adat di kampung.

Tradisi pernikahan adat Kalimantan Utara bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan praktik hidup yang terus beradaptasi. Mulai dari merisik hingga makan bajamba, setiap prosesi mengajarkan nilai kebersamaan dan penghormatan pada leluhur. Jika Anda berkesempatan menyaksikan langsung, siapkan hati untuk terhanyut dalam kehangatan budaya yang jarang terekspos ini.

Reporter: Mirza Fachri
Back to top