TARAKAN — Posisi geografis Kalimantan Utara yang berbatasan darat dengan Malaysia dan memiliki jalur laut internasional membuka celah masuknya organisme pengganggu. Ancaman itu tidak main-main, mulai dari hama tanaman hingga virus zoonosis seperti Nipah yang diketahui endemik di Malaysia. Untuk itu, BKHIT Kaltara memaksimalkan peran laboratoriumnya sebagai garda depan.
Ichi Langlang Buana Machmud menyebut virus Nipah menjadi salah satu contoh konkret yang perlu diwaspadai. "Misalnya virus Nipah yang endemik di Malaysia, tentu ada potensi masuk ke Kalimantan Utara. Karena itu kita perlu memiliki kemampuan mendeteksi agar penanganannya bisa dilakukan lebih cepat," ujarnya.
Selain virus Nipah, laboratorium BKHIT saat ini berfokus pada pengujian tiga kategori utama: Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK), serta Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK). Ketiganya menjadi prioritas karena potensi pemasukan dari jalur darat dan laut cukup tinggi.
Meski pengujian dasar sudah bisa dilakukan, ruang lingkup akreditasi laboratorium di Kaltara masih terbatas. Ichi mengakui hal ini menjadi pekerjaan rumah. "Dalam mendeteksi sebenarnya sudah bisa dilakukan. Tetapi ruang lingkup akreditasinya masih terbatas. Harapannya nanti bisa diperluas sesuai dengan kebutuhan karantina," jelasnya.
Keberadaan laboratorium lokal dinilai krusial untuk mempercepat respons. Ichi membandingkan dengan pengalaman awal pandemi Covid-19, di mana sampel harus dikirim ke luar daerah dan memperlambat penanganan. "Kalau kita tidak punya alat deteksi, bagaimana kita bisa mengetahui ada penyakit masuk," tegasnya.
Hasil pengujian laboratorium tidak hanya penting untuk pengawasan di dalam negeri, tetapi juga berkaitan dengan aktivitas perdagangan internasional. Menurut Ichi, hasil uji harus memiliki validitas dan pengakuan agar komoditas asal Kaltara diterima di negara tujuan ekspor. "Kalau hasil laboratorium kita tidak berstandar, negara tujuan bisa mempertanyakan keabsahannya. Karena itu standar internasional penting," pungkasnya.
Penguatan kapasitas laboratorium di daerah perbatasan seperti Kaltara menjadi kebutuhan mendesak, tidak hanya untuk melindungi sektor pertanian dan perikanan, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat dari ancaman penyakit yang tidak mengenal batas negara.