WBP Lapas Nunukan Panen Sayur di SAE, Perkuat Ketahanan Pangan

Penulis: Mirza Fachri  •  Selasa, 05 Mei 2026 | 01:47:01 WIB
Warga binaan Lapas Nunukan panen kangkung dan bayam di lahan SAE sebagai bagian dari program ketahanan pangan.

NUNUKAN — Area Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) milik Lapas Nunukan kembali hijau dengan hasil bumi. Para warga binaan mengelola lahan tersebut secara optimal hingga menghasilkan komoditas kangkung dan bayam yang siap konsumsi. Aktivitas ini merupakan agenda rutin yang bertujuan menjaga produktivitas meski mereka sedang menjalani masa pidana.

Kegiatan pertanian ini melibatkan seluruh tahapan budidaya secara mandiri. Mulai dari pengolahan tanah, penyemaian bibit, hingga perawatan harian dilakukan langsung oleh WBP dengan pengawasan ketat dari petugas Lapas. Pendampingan ini bertujuan memastikan teknik pertanian yang diterapkan sesuai standar sehingga hasil panen maksimal.

Bekali Narapidana Keterampilan Pertanian Pasca-Bebas

Kepala Lapas Nunukan, Donny Setiawan, menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan SAE bukan sekadar rutinitas untuk mengisi waktu luang. Menurutnya, fokus utama program ini adalah pembentukan karakter dan pemberian bekal hidup bagi para penghuni Lapas.

“Program ini kami dorong agar WBP memiliki keterampilan nyata. Mereka tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dibekali kemampuan yang bermanfaat ketika kembali ke masyarakat,” ujar Donny Setiawan.

Donny juga memberikan apresiasi khusus terhadap kegigihan para warga binaan. Meskipun wilayah tersebut sedang menghadapi kondisi cuaca kemarau, semangat untuk tetap produktif tidak surut. Hal tersebut dianggap sebagai indikator positif keberhasilan pembinaan mental dan etos kerja di dalam Lapas.

Bagaimana Proses Budidaya Sayur di Lapas Nunukan?

Keberhasilan panen kali ini tidak lepas dari jadwal pembinaan yang terencana dan berkelanjutan. Di lahan SAE, warga binaan belajar mengenai manajemen pertanian dari hulu ke hilir. Edukasi yang diberikan mencakup cara menghadapi kendala cuaca hingga teknik pemanenan yang benar agar kualitas sayur tetap terjaga.

Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Lapas Nunukan sebagai instansi yang aktif mendukung program ketahanan pangan daerah. Dengan memanfaatkan lahan yang tersedia, pihak Lapas membuktikan bahwa keterbatasan ruang gerak bukan penghalang untuk berkontribusi secara ekonomi dan sosial.

Melalui pembinaan yang konsisten, para narapidana diharapkan mampu bertransformasi menjadi pribadi yang lebih disiplin dan bertanggung jawab. Keterampilan bertani yang didapat selama di SAE diproyeksikan menjadi modal utama bagi mereka untuk membuka peluang usaha mandiri atau bekerja di sektor agraris setelah menyelesaikan masa hukuman.

Reporter: Mirza Fachri
Back to top