KALIMANTAN UTARA — Perum Bulog mencatat lebih dari 15 ribu penggilingan padi skala kecil kembali beroperasi setelah kebijakan harga pembelian gabah kering panen (GKP) Rp6.500 per kilogram dijalankan. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyebut kebijakan itu menghidupkan kembali usaha mikro di perdesaan yang sebelumnya redup.
"Kalau dulu-dulu mohon maaf, yang diberdayakan adalah penggilingan-penggilingan besar. Namun di era sekarang, yang kami hidupkan adalah penggilingan-penggilingan kecil ini. Tujuannya apa? Untuk menghidupkan masyarakat yang ekonominya lemah," ujar Rizal saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Kamis (8/10).
Rizal merinci Bulog kini menggandeng lebih dari 15 ribu penggilingan padi kecil di berbagai daerah sebagai mitra kerja. Skema kemitraan itu menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di perdesaan yang selama ini sulit mengakses pembeli dengan harga layak.
Melalui kebijakan harga gabah yang memihak petani, para pelaku UMKM di perdesaan ikut merasakan pertumbuhan ekonomi. Rizal menyebut para petani merasa lebih tenang karena ada kepastian harga di tingkat bawah.
"Bukan hanya kepada para petani, namun kepada masyarakat-masyarakat yang ada di desa, baik UMKM dan lain sebagainya. Dan ini pun berdampak juga kepada penggilingan-penggilingan. Penggilingan padi yang UMKM kecil ini yang kami berdayakan lebih dari 15.000 penggilingan yang kami jadikan mitra, ini jadi hidup kembali," jelasnya.
Bulog memastikan seluruh gabah petani terserap dengan harga minimal Rp6.500 per kg. Tidak ada lagi pembelian yang jatuh di bawah ketentuan tersebut.
Kepastian harga itu menjadi pijakan Bulog memperkuat rantai pasok pangan dari tingkat desa. Petani mendapat jaminan pendapatan, sementara penggilingan kecil memperoleh pasokan gabah yang stabil untuk diolah.
Ke depan, Bulog berencana memperkuat ekosistem ekonomi perdesaan dengan bersinergi bersama Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih). Kerja sama itu mencakup penyaluran produk pangan Bulog maupun pupuk bersubsidi.
Rizal berharap rantai pasok yang terbangun dari desa bisa mengubah arah pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut dia, roda perekonomian semestinya berputar dari desa menuju kota, bukan sebaliknya.
"Jadi harapannya dari kami, ini tetap berjalan dengan baik, ya, sehingga nanti kehidupan tumbuh ekonomi itu bukan dari kota ke desa, tapi dari desa ke kota," pungkasnya.
Bagi petani, harga GKP Rp6.500 per kg memberi kepastian marjin di tengah fluktuasi musim panen. Bagi pemilik penggilingan kecil, status mitra Bulog membuka akses pembiayaan dan pasokan yang lebih terukur dibanding menjual ke tengkulak.
Yang perlu dicermati, klaim 15 ribu penggilingan mitra belum dirinci sebaran wilayah maupun volume serapan per daerah. Publik menunggu data realisasi penyerapan gabah agar dampaknya bisa diukur, bukan sekadar diklaim.