KALIMANTAN UTARA — Pemerintah membuka ruang penerbitan surat utang global pada kuartal IV 2026 untuk menutup kebutuhan pembiayaan APBN, dengan Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan defisit anggaran tetap dijaga di bawah 3% terhadap PDB. Keputusan final penerbitan akan bergantung pada kondisi pasar dan kebutuhan pendanaan riil.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan pemerintah belum menutup pintu masuk ke pasar utang internasional hingga akhir tahun. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg Television bersama jurnalis Haslinda Amin yang ditayangkan Jumat (2/10).
Menurut Suahasil, penerbitan global bond menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN. Namun, pemerintah tidak akan terburu-buru dan akan menyesuaikan strategi dengan perkembangan pasar.
Suahasil menegaskan pemerintah masih memiliki ruang untuk menerbitkan surat utang di pasar global pada kuartal IV. Opsi itu terbuka seiring kebutuhan pembiayaan yang harus dipenuhi sebelum tutup buku anggaran.
"Kami masih memiliki ruang untuk melakukan global bond pada kuartal IV," ujar Suahasil.
Pemerintah juga menaruh perhatian pada biaya pendanaan. Suahasil menyebut upaya menekan yield dan spread terhadap surat utang negara lain menjadi pertimbangan utama dalam menentukan waktu dan struktur penerbitan.
"Kami ingin memastikan biaya pendanaan pemerintah serendah mungkin, dan kami ingin memastikan spread imbal hasil kami terhadap negara-negara lain juga serendah mungkin," katanya.
Penerbitan surat utang baru tidak akan mengubah komitmen pemerintah menjaga defisit APBN. Suahasil menegaskan batas defisit di bawah 3% terhadap produk domestik bruto tetap menjadi acuan yang tidak bisa dilanggar.
"Kami tetap berkomitmen menjaga defisit di bawah 3 persen," ujar Suahasil.
Menurutnya, batas tersebut menjadi simbol disiplin fiskal Indonesia di mata investor global. Pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan pembiayaan tanpa mengorbankan kredibilitas fiskal yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Suahasil juga menyebut pemerintah memiliki ruang fiskal untuk merespons kebutuhan ekonomi. Meski demikian, ruang tersebut akan digunakan secara hati-hati agar disiplin anggaran tetap terjaga.
Di luar APBN, pemerintah menyiapkan instrumen lain untuk mendukung pembangunan dan investasi. Suahasil menyebut Danantara sebagai kendaraan yang bisa digunakan untuk mempercepat proyek-proyek strategis tanpa membebani anggaran negara.
"Bayangkan Indonesia dan Presiden Prabowo memiliki dua senjata. Satu adalah APBN, yang lainnya adalah Danantara," kata Suahasil.
Pernyataan itu memberi sinyal bahwa pemerintah akan memadukan pembiayaan konvensional melalui APBN dan surat utang dengan instrumen investasi di luar anggaran. Bagi investor obligasi, sinyal disiplin defisit dan perhatian pada spread menjadi acuan dalam menilai risiko surat utang Indonesia ke depan.
Pasar akan mencermati apakah penerbitan global bond benar-benar terealisasi pada kuartal IV atau ditunda ke awal 2027, bergantung pada kondisi likuiditas global dan permintaan investor terhadap aset negara berkembang.