NUNUKAN — Dua sarang serangga berbahaya yang mengancam keselamatan warga di lingkungan padat pemukiman Nunukan Tengah berhasil diamankan. Petugas Rescue Damkar Nunukan melakukan evakuasi dan pemusnahan terhadap sarang lebah madu yang menempel di pohon mangga setinggi lima meter serta sarang tawon tanah yang bersarang di bawah tangga rumah milik Sianto.
Plt Kepala Damkar Kabupaten Nunukan, Wahyudin, menjelaskan bahwa pemilik rumah melaporkan keberadaan kedua sarang tersebut karena mengganggu aktivitas sehari-hari dan berpotensi membahayakan penghuni serta warga sekitar. Setelah menerima laporan, tim langsung melakukan asesmen lokasi.
“Berdasarkan hasil pengecekan, petugas memutuskan melakukan evakuasi dan pemusnahan pada malam hari. Ini karena lebah dan tawon cenderung lebih aktif dan agresif pada siang hari,” kata Wahyudin dalam keterangannya.
Langkah tersebut dipilih untuk meminimalkan risiko serangan terhadap petugas, penghuni rumah, maupun masyarakat di sekitar lokasi. Proses pemusnahan dimulai sekitar pukul 18.50 Wita.
Petugas terlebih dahulu menargetkan sarang lebah madu yang berada di dahan pohon mangga dengan ketinggian sekitar lima meter. Menggunakan tangga, racun pengusir serangga, serta metode pemanasan sarang, petugas berhasil memusnahkan sarang tersebut tanpa menimbulkan gangguan bagi warga sekitar.
Setelah itu, tim melanjutkan penanganan terhadap sarang tawon tanah yang berada di bawah tangga rumah. Sarang tersebut juga berhasil dimusnahkan dengan aman.
Wahyudin menyebutkan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dan selesai dalam waktu sekitar 20 menit. “Alhamdulillah, proses evakuasi dan pemusnahan kedua sarang berjalan sesuai rencana tanpa kendala berarti,” ujarnya.
Pasca-penanganan, Damkar Nunukan mengimbau masyarakat agar segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan sarang lebah, tawon, atau hewan berbahaya lainnya yang berpotensi mengancam keselamatan. Laporan bisa disampaikan langsung ke kantor Damkar setempat atau melalui jalur darurat.
Keberadaan sarang serangga penyengat di pemukiman kerap meningkat saat musim pancaroba atau ketika sumber makanan melimpah di sekitar lingkungan warga. Masyarakat diminta tidak melakukan pemusnahan secara mandiri karena berisiko tinggi terhadap sengatan massal.