TARAKAN — Dua titik pemasangan polisi tidur atau speed bump di Kota Tarakan menjadi perhatian warga yang melintas setiap hari. Titik pertama berada di Jalan Pulau Sumatera, Kelurahan Pamusian, tepatnya di kawasan lampu merah Ladang. Titik kedua di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sebengkok, sekitar Pengadilan Negeri Tarakan.
Abil, warga yang rutin melintasi kawasan Ladang, menyebut ruas itu jadi jalur tercepat menuju rumahnya di kawasan Pepabri, Kelurahan Kampung Satu. Ia menduga pemasangan polisi tidur punya pertimbangan tersendiri karena kawasan tersebut padat aktivitas.
"Saya biasa lewat ke sini karena memang ini adalah area tercepat untuk menuju rumah saya, untuk pulang kerja dan beraktivitas," ujarnya.
Alasan di Balik Pemasangan di Kawasan Ladang
Menurut Abil, kawasan Ladang dilalui anak sekolah yang keluar-masuk area tersebut. Ada pula sejumlah perkantoran di sekitarnya, termasuk Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) serta kawasan Pertamina yang aktivitasnya cukup padat.
"Mungkin ada urgensi tersendiri kenapa memang dipasang di area situ, karena mungkin di situ adalah area anak sekolah yang sering keluar masuk, adanya beberapa kantor KPKNL, kemudian juga ada Pertamina yang sudah cukup padat area di sana," jelasnya.
Meski memahami tujuan pemasangan, Abil menilai pengendara tetap perlu waspada saat melintas, terutama pada malam hari. Ia menyebut ada dua polisi tidur di kawasan Ladang yang sulit terlihat ketika kondisi jalan gelap.
"Apalagi kalau malam itu pasti kalau gelap kan pasti tidak kelihatan. Bisa-bisa kalau menabrak kendaraan malah bisa rusak, dan kalau kita buru-buru itu kalau tidak lihat juga bisa bahaya," bebernya.
Jalur Ambulans Menuju Rumah Sakit Jadi Sorotan
Abil juga menyoroti posisi polisi tidur di ruas jalan yang menjadi akses menuju rumah sakit dan kerap dilalui ambulans. Menurutnya, keberadaan fasilitas itu perlu mempertimbangkan kebutuhan kendaraan darurat yang harus bergerak cepat.
"Itu merupakan akses jalan menuju rumah sakit yang mana pasti sering dilewati oleh ambulans. Jadi mungkin memang kalau dipasang situ, apalagi dengan kondisi ambulans yang kadang memang butuh cepat responsnya, ketika di jalan ketika ada polisi tidur di situ juga pasti akan sedikit memperlambat operasional," tukasnya.
Warga Sebengkok Nilai Polisi Tidur Bantu Atur Kecepatan
Di kawasan Sebengkok, Lutfi menilai pemasangan polisi tidur di Jalan Pangeran Diponegoro membantu mengendalikan kecepatan kendaraan di tengah kepadatan lalu lintas. Ruas itu jadi salah satu akses yang sering dilaluinya untuk pulang kerja, dengan peningkatan aktivitas kendaraan pada pagi dan sore hari.
"Saya sering lewat situ karena memang itu adalah akses menuju dan tempat saya pulang kerja. Memang daerah situ cukup padat, apalagi kalau pagi itu pasti dipenuhi orang pulang pergi kerja, kemudian kalau sore dipenuhi oleh orang-orang pulang kerja," tuturnya.
Kondisi jalan yang relatif sempit serta keberadaan sejumlah perkantoran seperti Bulog dan Pengadilan Negeri Tarakan menjadi alasan pentingnya pengendalian kecepatan kendaraan. Lutfi menilai polisi tidur dapat mengurangi potensi pengendara melaju terlalu kencang di kawasan tersebut.
"Dengan adanya juga beberapa kantor seperti Bulog, kemudian ada Pengadilan Negeri, itu mungkin bisa menambah efektivitas pengaturan lalu lintas kalau pagi atau sore," katanya.
Aktivitas anak sekolah turut menambah kepadatan lalu lintas pada waktu tertentu. Menurut Lutfi, keberadaan polisi tidur bisa menjadi salah satu upaya mengantisipasi pengendara yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi.
"Kalau pagi atau sore itu padatnya anak-anak pulang sekolah, tentu saja yang dapat mencegah untuk mereka yang ngebut-ngebutan di kondisi dimensi jalan yang tidak begitu luas," ujarnya.
Harapan Warga: Ketinggian Polisi Tidur Dikaji Ulang
Kendati menilai pemasangan polisi tidur bermanfaat, Lutfi berharap pihak terkait tetap melakukan evaluasi agar fasilitas tersebut sesuai kondisi jalan dan kebutuhan pengguna. Salah satu aspek yang menurutnya dapat dikaji ialah ketinggian polisi tidur, sehingga keberadaannya tetap berfungsi mengendalikan kecepatan tanpa mengurangi kenyamanan berkendara.
"Bagi saya kalau memang ada pro dan kontra, harap pihak terkait bisa mungkin mengkaji terkait dengan ketinggian dari polisi tidurnya atau hal-hal yang bisa dikaji yang bisa menjadi perbaikan," harapnya.
Evaluasi tersebut diharapkan menghasilkan penyesuaian yang menyeimbangkan fungsi pengendalian kecepatan dengan keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran lalu lintas di kedua kawasan.