NUNUKAN — BPS Kabupaten Nunukan mencatat inflasi bulanan September 2026 sebesar 0,59 persen secara month-to-month. Secara tahun kalender Januari–September 2026, inflasi tercatat 1,98 persen, sementara Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 111,51.
Kepala BPS Kabupaten Nunukan, Dr. Iskandar Ahmaddien, mengatakan kenaikan inflasi tahunan dari 1,28 persen pada Agustus menjadi 2,24 persen pada September tetap lebih rendah dibanding puncak setahun terakhir.
"Perkembangan tersebut perlu dibaca secara lebih utuh. inflasi tahunan Nunukan pada September 2026 meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat 1,28 persen. Namun, angka 2,24 persen tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan puncak inflasi tahunan dalam setahun terakhir, yaitu 4,22 persen pada Februari 2026," ujar Iskandar dalam rilisnya Jumat (02/10/2026).
Perjalanan Inflasi Nunukan Sepanjang 2026
Inflasi tahunan Nunukan tercatat 3,67 persen pada Januari dan memuncak di 4,22 persen pada Februari. Setelah itu, angka turun menjadi 1,96 persen pada Maret.
Pada April hingga Juni, inflasi masing-masing berada di 2,05 persen, 2,03 persen, dan 2,08 persen. Tren penurunan berlanjut pada Juli dan Agustus, masing-masing 1,34 persen dan 1,28 persen, sebelum kembali naik ke 2,24 persen pada September.
Makanan, Minuman, dan Tembakau Jadi Penyumbang Terbesar
Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil terbesar terhadap inflasi tahunan Nunukan, yakni 0,61 poin persentase.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran menyusul dengan andil 0,46 poin persentase, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,36 poin persentase. Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberi andil 0,23 poin persentase.
Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga serta transportasi masing-masing menyumbang 0,21 poin persentase. Adapun informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,10 poin persentase, kesehatan 0,05 poin persentase, serta pakaian dan alas kaki 0,01 poin persentase.
Mengapa Pasokan dan Distribusi Jadi Kunci Harga di Nunukan
Iskandar menyebut besarnya kontribusi kelompok makanan, minuman, dan tembakau berkaitan langsung dengan kebutuhan harian masyarakat. Karena itu, perhatian terhadap ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi pangan menjadi semakin penting.
"Sebagai kabupaten perbatasan dengan karakter wilayah kepulauan dan jarak antarkawasan yang relatif jauh, persoalan harga di Nunukan tidak dapat dilepaskan dari aspek pasokan dan distribusi," katanya.
Menurutnya, gangguan pasokan maupun transportasi berpotensi memengaruhi harga yang diterima masyarakat. Pemantauan kondisi pangan pun perlu dilakukan sejak dari ketersediaan stok hingga jalur distribusinya.
"Pemantauan sebaiknya tidak berhenti pada harga, tetapi juga melihat ketersediaan stok, asal pasokan dan hambatan distribusinya," ujar Iskandar.
Penguatan Produksi Lokal hingga Peran TPID
Selain menjaga kelancaran distribusi, penguatan produksi pangan lokal dinilai dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar wilayah. Komoditas yang secara teknis dan ekonomis memungkinkan dikembangkan di Nunukan menjadi prioritas.
Langkah itu diharapkan membuat harga tidak terlalu rentan terhadap gangguan distribusi. Koordinasi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga perlu diperkuat dengan data yang lebih spesifik.
"Ketika terjadi tekanan harga, perlu segera diketahui apakah persoalannya berasal dari kekurangan pasokan, distribusi, peningkatan permintaan, faktor musiman, atau faktor lainnya, dengan