Ionna CEO: Infrastruktur Charging Harus Untung, atau EV Tak Akan Bertahan

Penulis: Panji Pratama  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:50:31 WIB
CEO Ionna Seth Cutler menegaskan infrastruktur pengisian daya EV harus mencetak laba agar adopsi kendaraan listrik tetap berlanjut.

KALIMANTAN UTARA — CEO Ionna Seth Cutler menegaskan bisnis pengisian daya EV harus mencetak laba, bukan sekadar layanan pendukung penjualan mobil listrik. Pernyataan itu muncul saat ia berbicara di The Drivecast, menyoroti model bisnis jaringan charging yang dibiayai delapan pabrikan besar dunia. Tanpa profitabilitas, menurut Cutler, infrastruktur pengisian daya tidak akan bertahan, dan ujungnya adopsi EV ikut terhambat.

Ionna lahir sebagai perusahaan patungan yang melibatkan BMW, Mercedes-Benz, General Motors, Honda, Hyundai, Kia, dan Stellantis. Toyota menyusul setahun kemudian dan melengkapi daftar menjadi delapan pabrikan. Model bisnisnya bukan lagi sekadar penjualan kendaraan, melainkan diversifikasi usaha di sektor energi dan pengisian daya.

Saat ini Ionna beroperasi dengan suntikan dana dari para pemegang saham pabrikan, jumlahnya tidak diungkap ke publik. Cutler menyadari pendanaan itu tidak akan mengalir selamanya. Ia menegaskan perusahaan harus mencapai kemandirian finansial dan profitabilitas dalam jangka panjang.

Bukan Sekadar Layanan Pendukung Penjualan Mobil

Cutler menyampaikan pernyataan itu dalam wawancara di The Drivecast. Menurutnya, infrastruktur pengisian daya tidak bisa diperlakukan sebagai pelengkap gratis bagi penjualan EV.

"Infrastruktur harus berorientasi laba atau ia tidak akan pernah bertahan, dan jika tidak bertahan, EV tidak akan pernah bertahan," kata Cutler.

Ia menambahkan, "Kami tahu perusahaan ini harus mencapai kemandirian finansial dan profitabilitas seiring waktu."

Cutler menghabiskan sebagian besar kariernya di sektor pengisian daya EV dan energi. Ia melihat langsung bagaimana jaringan yang tidak punya model pendapatan jelas cenderung stagnan. Karena itu, Ionna mengadopsi pendekatan yang tidak lazim untuk perusahaan rintisan infrastruktur: mengejar profit sejak awal, bukan setelah ekspansi besar-besaran.

Kemitraan Retail dan Lahan yang Disiapkan untuk Masa Depan

Untuk mengejar profitabilitas, Ionna menggandeng sejumlah jaringan retail dan restoran jalan raya seperti Circle K, Wawa, Sheetz, dan Casey's. Kemitraan ini memberi perusahaan lokasi strategis di sepanjang jalur antarnegara bagian tanpa harus membangun semuanya dari nol.

Selain itu, Ionna membeli lahan di beberapa lusin titik. Di sejumlah lokasi, perusahaan membangun fasilitas sendiri, termasuk bangunan dengan mesin penjual otomatis, toilet, dan teknologi seperti Amazon Just Walk Out. Sebagian lahan lain dikelola lewat perjanjian sewa tanah, dengan ruang untuk menambah bangunan atau mencari penyewa bersama di kemudian hari.

"Kami membeli lahan di beberapa lusin lokasi, kami membangun fasilitas sendiri," ujar Cutler. "Hal-hal itu sudah tertanam di bawah tanah seperti benih."

Meski demikian, Cutler menegaskan Ionna belum memfokuskan sumber daya ke pengembangan fasilitas tambahan tersebut. Prioritas saat ini adalah kualitas pengalaman pengemudi dan keandalan pengisian daya dalam skala besar. Menurutnya, organisasi mudah teralihkan jika terlalu banyak proyek berjalan bersamaan.

Rencana monetisasi lain baru akan digarap pada 2027, 2028, atau setelahnya. Ionna menyiapkan opsi tambahan untuk memberi nilai lebih kepada pengemudi, tetapi semuanya masih dalam tahap persiapan.

Target Tiga Kali Lipat dan Peta Persaingan Jaringan Charging

Ionna tidak sendirian dalam membangun jaringan pengisian cepat nasional. Rivian lewat Rivian Adventure Network (RAN) mengejar target serupa, meski fokusnya lebih tersebar. Hingga musim panas lalu, jaringan RAN sedikit lebih kecil dari Ionna dan hanya sekitar 4% dari jaringan Supercharger Tesla.

Cutler menyebut target ambisius untuk tahun ini. "Target saya adalah melipatgandakan ukuran jaringan tahun ini dari posisi awal kami di 80 titik pada awal tahun," katanya.

Ia mengakui skala ekspansi itu belum banyak terlihat publik karena perusahaan bergerak cepat. Jaringan yang lebih besar menjadi kunci untuk menekan biaya per titik dan mempercepat pencapaian profitabilitas. Bagi Ionna, pertumbuhan bukan sekadar soal jumlah charger, tetapi soal membuktikan bahwa model bisnis pengisian daya EV bisa berdiri sendiri tanpa bergantung selamanya pada dana pabrikan.

Reporter: Panji Pratama
Sumber: thedrive.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top